Seri Perencanaan Finansial
JAKARTA (Sketsa.co) – Catatan harta atau aset dan utang serta kewajiban finansial lainnya merupakan alat bantu untuk mengetahui secara pasti besaran kekayaan bersih.
Kira-kira sama seperti dokter yang membutuhkan termometer untuk mengukur suhu tubuh pasien, untuk mengetahui kekayaan bersih, kita membutuhkan alat bantu. Nah, catatan kekayaan merupakan alat bantu untuk mengetahui kekayaan bersih.
Pribadi maupun keluarga membutuhkan alat bantu berupa catatan harta atau aset dan utang serta kewajiban finansial lainnya untuk mengetahui jumlah kekayaan bersih yang sebenarnya kita dimiliki.
Dalam buku Smart Saving & Borrowing for Ordinary Family karangan Roy Sembel, Muhamad Ichsan dan Parpudi Lubis, disebutkan bahwa catatan kekayaan merupakan ringkasan (summary) dari total nilai aset, utang dan liabilities beserta total kekayaan yang dimiliki seseorang atau keluarga pada suatu waktu.
Ilustrasi: Keluarga Soenaryo
Catatan kekayaan (asset allocation) ini merupakan potret sesaat keadaan keuangan seseorang atau keluarga. Sebagai ilustrasi, misalnya catatan kekayaan keluarga Soenaryo per 31 Juli 2004.
Setelah catatan kekayaannya berhasil disusun, maka terlihat jelas bahwa kekayaan bersih keluarga Soenaryo ternyata tidaklah sebanyak yang tampak di permukaan yang mencapai jumlah Rp430 juta karena keluarga itu ternyata masih punya kewajiban lebih dari 50% dari total kekayaan kotornya.
Alhasil, setelah dilakukan perhitungan yang cermat dan teliti—seluruh kekayaannya dikurangi seluruh utangnya—maka keluarga Soenaryo terlihat hanya memiliki kekayaan bersih senilai Rp220 juta atau kira-kira hanya separuhnya.
Dalam catatan kekayaan keluarga Soenaryo, terlihat bahwa keluarga tersebut sebenarnya sudah menaruh perhatian terhadap masalah investasi dan kebutuhan keuangan jangka panjang sehingga seolah-olah tampak telah mempraktikkan prinsip financial planning meski masih secara amatiran.
Dalam catatan tersebut, total kekayaan yang tersedot ke investasi terlihat cukup besar yaitu mencapai Rp125 juta (atau 40,98% dari total kekayaan finansial plus personal).
Dan keluarga Soenaryo juga telah menyisihkan dana untuk kepentingan jangka panjang yakni tabungan pendidikan (anak) sebesar Rp15 juta.
Tapi sayang, keluarga tersebut terlihat masih banyak mengumpulkan kekayaannya dari utang mulai dari utang kartu kredit sampai pinjaman lain-lain.
Bisa jadi besarnya dana yang ditaruh dalam investasi tersebut bukan berasal dari akumulasi tabungan keluarga Soenaryo, melainkan dari pinjaman sana-sini tadi.
Kalau demikian kejadiannya, maka keluarga Soenaryo masih jauh dari prinsip financial planning yang benar. Dalam ilmu financial planning, investasi keluarga seharusnya digerakkan oleh tabungan, bukannya oleh pinjaman. Nah ini justru sebaliknya.
Namun seburuk apapun performa keuangan keluarga Soenaryo, total kekayaan bersih keluarga itu ‘relatif aman’ karena masih lebih besar dari total kewajibannya.
Jika total kewajibannya telah melampaui total kekayaannya, maka keluarga itu tentu akan jatuh pailit.
Keluarga Soenaryo harus segera menarik tabungan, mencairkan deposito, menjual aset dan melepas investasi apa saja untuk menutup lobang yang menganga agar keluarga itu tidak ambruk, jika total kewajibannya ternyata telah melampaui total kekayaannya.
Dari laporan kekayaannya, terlihat bahwa keluarga Soenaryo memiliki utang kartu kredit yang cukup besar yaitu mencapai Rp20 juta. Utang kartu kredit sebesar itu sangat berbahaya jika tidak segera dibereskan karena bunganya sangat tinggi yaitu bisa mencapai 46% per tahun!
Hitung Utang Dulu
Sekedar tips, lebih baik Anda menghitung utang dan kewajiban terlebih dahulu sebelum Anda menghitung berapa sebenarnya besaran aset dan kekayaan yang dimiliki.
Kalau Anda hanya memperhatikan sisi aktiva, bisa jadi Anda sebenarnya sudah jatuh pailit tapi masih bisa hidup berkat kartu kredit.
Membuat catatan kekayaan merupakan salah satu kiat jitu untuk menghitung secara riil berapa total kekayaan Anda yang sebenarnya. Dari situ Anda bisa mengetahui apakah Anda sebenarnya sudah jatuh pailit ataukah masih memiliki kekayaan yang memadai.
Baca juga: Berapakah kekayaan Anda sebenarnya?
Jika catatan kekayaan ini dipadukan dengan catatan arus kas, maka Anda akan memperoleh gambaran yang lebih jelas dan terinci mengenai kondisi keuangan aktual Anda. Berbagai informasi penting bisa Anda peroleh untuk dijadikan bahan pembuatan keputusan keuangan.
Informasi tersebut misalnya besarnya aset bersih atau riil yang Anda miliki, investasi yang telah Anda tanam, sampai utang yang Anda tanggung beserta sumber-sumber keuangan yang bisa dipakai untuk melunasinya.
Nah, daripada hanya melamunkan “Berapa sih jumlah kekayaan bersih yang sebenarnya saya miliki?” saat ngantre di depan loket bank atau di stasiun, mendingan betul-betul menuangkan lamunan itu dalam catatan dan laporan yang nyata.
Tidak salah jika Anda ambil secarik kertas lalu corat-coret bikin catatan kekayaan. Salah tidak masalah, yang penting Anda sudah memulai.

