JAKARTA (Sketsa.co): Saat artikel ini ditulis, Iran telah memasuki hari ke-36 perang melawan AS dan Israel, dan belum ada tanda tanda perang ini akan mereda. Selama konflik, banyak perubahan drastis telah terjadi di industri kripto di Iran.
Banyak pengguna menarik dana mereka dari bursa lokal dan memindahkannya ke bursa asing yang memiliki prosedur Know Your Customer (KYC) yang lebih simpel, meskipun hal ini juga membawa risiko keamanan yang lebih tinggi.
Selain itu, pengguna juga mulai beralih ke jaringan blockchain alternatif seperti ke jaringan Polygon dan stablecoin seperti DAI, untuk menghindari kerentanan yang terkait dengan jaringan TRON yang banyak digunakan oleh Nobitex, bursa kripto terbesar di Iran.
Menurut data dari TRM Labs (perusahaan platform intelijen blockchain yang bermarkas di San Francisco, AS), aliran kripto ke Iran dari Januari hingga Juli 2025 mencapai sekitar US$3,7 miliar, turun 11% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Penurunan paling tajam terjadi pada bulan Juni dan Juli, saat terjadi konflik 12 hari dengan Israel dan pembicaraan nuklir terhenti.
Pada bulan Juni, aliran kripto turun lebih dari 50% secara tahunan, dan sebulan kemudian, pada bulan Juli, penurunan mencapai lebih dari 76%.
Hal ini disebabkan oleh sejumlah faktor kombinasi mulai dari adanya ketegangan militer, serangan siber, dan tindakan regulasi internasional yang telah mempengaruhi pasar kripto di Iran, baik dari segi volume perdagangan, kepercayaan pasar, maupun struktur ekosistem keuangan.
Serangan Siber
Salah satu peristiwa paling berdampak adalah serangan siber terhadap Nobitex, bursa kripto terbesar di Iran, pada tanggal 18 Juni 2025 oleh kelompok pro-Israel yang menamai dirinya Predatory Sparrow.
Serangan ini menyebabkan kerugian sekitar US$90 juta, dimana dana yang dicuri dari Nobitex dipindahkan ke alamat blockchain yang tidak dapat diakses, sehingga dana tersebut hilang secara permanen.
Serangan dari Predatory Sparrow ini tak ayal menyebabkan gangguan likuiditas yang parah serta penurunan kecepatan transaksi di pasar domestik kripto di Negeri para Mullah itu.
Selain itu, serangan ini juga menunjukkan adanya semacam kerentanan infrastruktur bursa Iran sehingga sempat menimbulkan keraguan besar di pasar lokal terhadap keamanan platform kripto Nobitex yang menangani sekitar 87% dari seluruh transaksi kripto di Iran.
Selain menghadapi serangan siber, pada bulan Juli 2025, perusahaan Tether Hong Kong juga membekukan 42 dompet yang terkait dengan Iran, lebih dari setengahnya terkait dengan Nobitex. Tindakan ini merupakan intervensi pasar terbesar terhadap alamat dompet yang terkait dengan Iran, dalam rangka menghilangkan likuiditas penting pasar kripto di Iran, serta membatasi akses pengguna Iran ke stablecoin, dalam hal ini USDT.
Sebagai tanggapan, pemerintah Iran kemudian meluncurkan kampanye yang mendorong pengguna lokal untuk beralih dari USDT ke DAI di jaringan Polygon untuk transaksi yang lebih cepat dan lebih murah.
DAI adalah mata uang kripto bernilai tetap (stablecoin) terdesentralisasi yang nilainya dipatok satu banding satu terhadap dolar AS atau 1 DAI sama dengan 1 US$.
Sedangkan USDT adalah stablecoin yang diluncurkan oleh perusahaan swasta Thether Limited Hong Kong pada tahun 2014. Ini adalah stablecoin tertua dan punya kapitalisasi pasar serta volume perdagangan terbesar di dunia.
Sementara USDC adalah stablecoin yang diluncurkan oleh konsorsium Centre (didirikan oleh Circle dan Coinbase, AS) pada 2018. USDC sering dianggap sebagai stablecoin alternatif yang lebih transparan dibanding USDT karena teregulasi dibawah aturan perundangan AS yang ketat.
Respon Pemerintah Iran
Untuk mengatasi berbagai situasi yang kurang menguntungkan tersebut, pemerintah Iran telah mengambil langkah-langkah penting dan strategis.
Pada bulan Agustus 2025, Iran memperkenalkan pajak atas keuntungan modal dari perdagangan kripto, yang menunjukkan upaya untuk mengintegrasikan aset digital ke dalam ekonomi formal.
Namun, langkah ini juga mencerminkan keinginan pemerintah untuk mengontrol aliran modal dan mendapatkan income dari pasar kripto.
Selain itu, Bank Sentral Iran (CBI) juga telah menerapkan peraturan baru, seperti melarang bursa kripto nasional beroperasi antara jam 20:00 hingga 10:00 waktu setempat, yang diklaim sebagai langkah pengamanan, walaupun pada akhirnya juga mempengaruhi aktivitas bursa.
Tetapi tidak bisa dipungkiri, meskipun menghadapi berbagaj tantangan berat, industri kripto tetap memegang peran penting dalam sistem perekonomian Iran, terutama dalam menghadapi sanksi internasional dan ketidakstabilan ekonomi.
Banyak warga Iran menggunakan kripto sebagai cara untuk melindungi nilai kekayaan mereka dari inflasi yang tinggi dan devaluasi mata uang lokal.
Kripto juga telah digunakan oleh entitas yang terkait dengan pemerintah Iran untuk tujuan pertahanan dan keamanan seperti memperoleh komponen drone, kapal, perangkat keras AI, dan membayar agen asing. (Baca tulisan sebelumnya “Berkat Kripto, Iran Kebal Embargo”).
Industri kripto Iran kini sedang menghadapi masa-masa sulit pasca konflik dengan AS dan Israel yang ditandai dengan menurunnya volume perdagangan, meningkatnya serangan siber, merebaknya pembekuan aset, dan membubungnya krisis kepercayaan di pasar lokal.
Masa depan industri kripto dan aset digital Iran akan sangat tergantung pada kemampuan pemerintah setempat bersama pelaku pasar, untuk merespon dan menanggapi tantangan yang ada, di tengah dunia yang terus bergelolak.
*Penulis adalah jurnalis senior bidang finansial, dan pemerhati aset digital/kripto.

