Seri Perencanaan Finansial
JAKARTA (Sketsa.co) – Pernahkah Anda dalam suatu kesempatan—misalnya ketika menunggu antrean di bank atau menunggu tiket KA di stasiun sewaktu hendak mudik ke kampung halaman—bertanya pada diri sendiri, “Berapa sih jumlah kekayaan bersih yang saya miliki?”
Anda mungkin saat ini punya rumah, mobil dan berbagai perabotan dan perlengkapan rumah tangga yang berharga mahal. Namun coba dicek, apakah rumah, mobil dan berbagai barang dan perangkat mahal tersebut Anda beli secara tunai seluruhnya?
Atau sebagian masih mengutang, baik mengutang dari teman, orang tua ataupun lembaga leasing?
Jika setelah Anda ingat-ingat ternyata Anda masih memiliki tanggungan utang, lalu berapa sebenarnya kekayaan bersih yang Anda miliki saat ini?
Setelah Anda menyadari bahwa Anda masih punya tanggungan utang, apakah Anda masih yakin bahwa kekayaan Anda tetap sebesar perkiraan sebelumnya?
Benarkah aset Anda masih ekuivalen dengan seluruh harta-benda yang tampak di permukaan kehidupan Anda?
Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang terkadang merasa telah memiliki kekayaan dalam jumlah besar karena merasa memiliki aset bermacam-macam. Ada aset finansial seperti uang tunai, tabungan atau dana yang berada di ATM.
Atau aset personal seperti rumah, mobil, komputer, dan perabotan rumah tangga berharga lainnya.
Apalagi jika seseorang itu memiliki aset-aset investasi yang bersifat produktif seperti dana pensiun, saham, obligasi, reksadana, properti yang disewakan dan semacamnya, tentu dia akan merasa memiliki aset yang lebih banyak lagi sehingga merasa telah menjadi orang berpunya. Tajir melintir.
Tetapi tunggu dulu! Kekayaan bersih seseorang bukanlah kekayaan yang tampak di permukaan saja. Kekayaan bersih seseorang baru benar-benar ada dalam realita jika total kekayaan setelah dikurangi total utang dan kewajibannya menghasilkan saldo positif. Saldo positif adalah kekayaan bersih. Di titik itulah kekayaan Anda yang sebenarnya tercermin.
Nah, untuk mengetahui kekayaan bersih tersebut, seseorang perlu menghitung secara cermat dan teliti. Berapa sebenarnya total aset yang dimilikinya dan berapa total utang dan kewajiban (liabilities) yang masih ditanggungnya pada suatu periode tertentu.
Jangan pernah Anda merasa memiliki banyak aset, padahal Anda belum pernah menghitung total utang dan kewajiban. Jika Anda hanya menghitung aset tetapi tidak pernah menghitung kewajiban, bisa jadi Anda merasa kaya, padahal sebenarnya tidak punya apa-apa.
Jadi, berapakah kekayaan Anda sebenarnya?

