JAKARTA (Sketsa.co) — Mengapa pelaku kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) lebih banyak pria atau suami?
Meski pada dasarnya, pelaku KDRT bisa berasal dari berbagai latar belakang dan jenis kelamin, namun data menunjukkan bahwa lebih banyak kasus KDRT dilakukan oleh pria atau suami daripada wanita atau istri.
Ada beberapa faktor yang dapat menjelaskan mengapa hal itu terjadi:
Faktor Budaya dan Sosial: Dalam banyak budaya patriaki, pria dianggap sebagai kepala keluarga yang memiliki otoritas dan kontrol atas anggota keluarga lainnya.
Dalam beberapa kasus, kekerasan dianggap sebagai cara yang dapat digunakan oleh suami untuk “mendidik” atau “mengontrol” istri atau anak-anaknya.
Faktor Psikologis: Pelaku KDRT cenderung memiliki gangguan kejiwaan atau trauma masa lalu yang belum teratasi. Beberapa pelaku KDRT juga memiliki kecenderungan untuk mengendalikan dan memaksakan kehendak mereka pada pasangan atau keluarga mereka.
Faktor Ekonomi: Tekanan ekonomi atau ketidakstabilan keuangan dapat memperburuk situasi di rumah tangga dan memicu terjadinya KDRT.
Pelaku KDRT yang merasa tidak mampu memenuhi kebutuhan keluarga mereka seringkali merasa tidak berdaya dan kurang berkuasa, dan kekerasan dapat menjadi cara bagi mereka untuk merasa kuat dan berkuasa.
Faktor Alkohol atau Narkoba: Penggunaan alkohol atau narkoba dapat memperburuk kondisi mental dan emosional seseorang, dan dapat memicu perilaku kekerasan.
Baca juga: Apakah Pasangan Anda Selingkuh? Perhatikan Tanda-tanda Ini…
Pelaku KDRT yang menggunakan alkohol atau narkoba juga cenderung lebih impulsif dan kurang mampu mengendalikan emosi mereka.
Namun, penting untuk diingat bahwa tidak semua pria atau suami adalah pelaku KDRT, dan tidak semua korban KDRT adalah wanita atau istri.
Penting untuk mengatasi KDRT sebagai masalah yang kompleks dan melibatkan banyak faktor yang berbeda, dan untuk bekerja sama sebagai masyarakat untuk mencegah dan mengatasi KDRT.

