JAKARTA (Sketsa.co) — Beberapa waktu terakhir, Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto tampak intens mendekati para elite dan politisi senior Partai Golkar.
Prabowo antara lain dua kali bertemu Ketua Umum Golkar Airlangga Hartarto, Ketua Dewan Pembina Golkar Aburizal Bakrie, serta mantan Ketum Golkar Jusuf Kalla, yang juga Wapres ke-10 dan ke-12 RI.
Tak ayal lagi, manuver Prabowo tersebut diduga terkait dengan upaya mengajak Golkar untuk menjalin kerjasama menghadapi pilpres mendatang.
Seperti diketahui, sejak PDI Perjuangan mendeklarasikan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo sebagai calon presiden, wacana dan rencana pembentukan koalisi besar partai-partai pendukung pemerintahan Jokowi tiba-tiba menjadi redup.
Langkah PDIP yang mendeklarasikan capresnya “secara sepihak” dianggap membuyarkan langkah lanjutan untuk mematangkan koalisi besar yang dalam bahasa Ketum PAN Zulkifli Hasan—di bawah komando Jokowi.
Sejauh ini, baru PPP yang mengikuti langkah PDIP turut memberikan dukungan pencapresan Ganjar Pranowo. Atas keputusan resminya itu, petinggi PPP bahkan sudah mengadakan pertemuan formal dengan petinggi PDIP, termasuk Ketum Megawati Soekarnoputri.
Manuver PPP mendukung pencapresan Ganjar telah memicu kegamangan di antara anggota Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) lainnya, yakni PAN dan Golkar.
Dengan memastikan diri mendukung Ganjar, secara tidak langsung PDIP dan PPP menutup peluang tokoh atau sosok dari partai pendukung pemerintah lainnya untuk menjadi kandidat presiden seandainya rencana pembentukan koalisi besar berlanjut dengan melibatkan PDIP dan PPP.
Sikap Berbeda
Karenanya, sebagai respons atas manuver PDIP yang didukung PPP tersebut, wajar belaka jika Golkar, PAN, juga Gerindra dan PKB, mengambil sikap berbeda.
Yang tampak paling tidak nyaman Gerindra, yang sejak muncul wacana dan rencana pembentukan koalisi besar, melihat peluang sang ketum, Prabowo Subianto, punya kans dicapreskan rame-rame oleh koalisi partai pro-Jokowi.
Apalagi, sebelumnya, dalam beberapa kesempatan Jokowi tampak memberi endorsement atau semacam restu atas keputusan Gerindra untuk kali ketiga mengusung pencapresan Prabowo. Selain itu, Prabowo juga kelihatan sangat akrab dan dekat dengan Jokowi.
Baca juga: Benarkah Cak Imin Galang Kekuatan Alternatif?
Kini, selain memperkuat jalinan koalisi dengan PKB dalam format KKIR, Gerindra juga punya peluang untuk mengajak Golkar, mungkin juga PAN, untuk memperkuat barisan koalisi guna mengusung pencapresan Prabowo.
Melihat gelagat Golkar yang dalam beberapa kesempatan mengingatkan bahwa pemenang Pemilu 2024 bukan the winner takes it all, potensi partai ini untuk gabung bersama KKIR membentuk koalisi besar minus PDIP dan PPP, sangat terbuka.
Golkar yang kelihatan tak sreg dengan langgam PDIP yang terkesan atau dikesankan sombong atau jemawa agaknya lebih merasa nyaman merapat ke Gerindra untuk mendukung pencapresan Prabowo…

