JAKARTA (Sketsa.co) — Politik identitas adalah praktek politik yang mendasarkan pada identitas seseorang, seperti agama, etnisitas, jenis kelamin, orientasi seksual, atau kelompok sosial tertentu.
Meskipun politik identitas dapat membantu dalam memberikan representasi dan hak yang adil bagi kelompok minoritas, namun politik identitas juga dapat menyebabkan bahaya di masyarakat majemuk.
Salah satu bahaya dari politik identitas atau politisasi identitas SARA adalah polarisasi dan konflik antarkelompok. Dalam politik identitas, kelompok-kelompok saling berlawanan dan saling berkompetisi untuk mempertahankan hak dan kepentingan mereka.
Hal itu dapat mengakibatkan munculnya konflik dan ketegangan di antara kelompok-kelompok tersebut, sehingga dapat memperburuk situasi di masyarakat majemuk.
Selain itu, politik identitas dapat memperkuat stereotipe dan prasangka yang ada di masyarakat. Ketika seseorang mengidentifikasi dirinya dengan kelompok tertentu, ia dapat menjadi lebih cenderung untuk memandang kelompok lain secara negatif atau dengan prasangka, yang dapat memperburuk hubungan antarkelompok.
Kaburkan Isu Penting
Politik identitas juga dapat mengaburkan isu-isu penting yang berkaitan dengan masalah yang lebih umum dan fundamental. Fokus pada identitas agama atau etnis misalnya, dapat mengalihkan perhatian dari isu-isu yang lebih besar dan penting, seperti pemerataan ekonomi, hak asasi manusia, dan perlindungan lingkungan.
Hal tersebut dapat menyebabkan ketidakseimbangan dalam pemikiran dan tindakan politik, yang dapat merugikan masyarakat secara keseluruhan.
Baca juga: Enam Partai Bertemu Jokowi, Skenario Dua Koalisi Capres Mengemuka
Dalam masyarakat majemuk, politik identitas dapat mengancam persatuan dan kebersamaan. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk memahami bahaya politik identitas dan mencari cara-cara untuk mengatasi dan menghindarinya.
Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan mempromosikan dialog antarkelompok dan membangun kesadaran tentang hak dan kepentingan bersama yang dimiliki oleh semua orang dalam masyarakat.
Sebagai bangsa majemuk, Indonesia sudah sepatutnya dan seharusnya menghindarkan diri dari eksploitasi politik identitas di tengah keberagaman identitas SARA yang ada.

