JAKARTA (Sketsa.co) — Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar bergerak cepat melakukan safari politik ke pimpinan partai lainnya.
Usai pertemuan enam ketua umum partai pendukung pemerintah bersama Presiden Jokowi di Istana Presiden, Selasa malam (2/5), esok harinya (Rabu/3/5) Cak Imin—sapaan akrab Muhaimin—menemui Ketum Golkar Airlangga Hartarto.
Malam harinya, Cak Imin berkunjung ke Cikeas, Bogor, bertemu Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono dan Ketum Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono.
Tentu belum atau tidak ada hasil konkret instan terkait dengan kemungkinan kedua partai menjalin kerjasama politik menghadapi pilpres mendatang.
Sama seperti pertemuan AHY dengan Ketum Golkar Airlangga Hartarto beberapa hari lalu, pertemuan Cak Imin dengan SBY dan AHY lebih bermakna menjalin silaturahmi dan menegaskan komitmen normatif, misalnya menghindarkan bangsa ini dari perpecahan akibat penggunaan politik identitas.
Wajar
Dari sisi Cak Imin, adalah wajar jika dia berupaya mendekati AHY dan membuka kemungkinan Demokrat bergabung bersama Gerindra dan PKB (Koalisi Kebangkitan Indonesia Raya/KKIR) membentuk koalisi besar menghadapi pilpres.
Apalagi sejak PDI Perjuangan mendeklarasikan Ganjar Pranowo sebagai capres pada 21 April lalu, yang disusul dengan deklarasi dukungan dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP), sekonyong-konyong partai-partai pendukung pemerintahan Jokowi lainnya seperti dilanda kegalauan.
Manuver Cak Imin melakukan komunikasi politik intensif dengan partai lain, termasuk Demokrat yang notabene bukan partai pendukung pemerintah, niscaya layak dimaknai sebagai upaya mencari peluang melakukan konsolidasi kekuatan alternatif.
Baca juga: Enam Partai Bertemu Jokowi, Skenario Dua Koalisi Capres Mengemuka
Sementara dari sisi AHY, di tengah ketidakpastian kandidat cawapres pendamping Anies Baswedan yang diusung Koalisi Perubahan untuk Persatuan/KPP (Nasdem, Demokrat dan PKS), adalah wajar jika Ketum Demokrat tersebut membuka opsi kerjasama dengan partai lain.
Sebagai sosok yang diusulkan Demokrat untuk menjadi bakal cawapres pendamping Anies, sejujurnya peluang AHY masih fifty-fifty. Namun, bukan tidak mungkin pada akhirnya Anies memilih figur lain untuk mendampinginya di arena pilpres. Apalagi PKS, dan terutama Nasdem, tampak kurang sreg kalau AHY menjadi bakal cawapres Anies.
Dengannya, sangat dimungkinkan Demokrat keluar dari KPP dan merapat ke partai lain yang dinilainya lebih prospektif. Nah, dalam konteks itulah, pertemuan AHY-Airlangga atau AHY-Cak Imin menemukan relevansinya.

