JAKARTA (Sketsa.co) — Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar alias Cak Imin menyebut jika Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto memilih Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo sebagai cawapres maka Koalisi Kebangkitan Indonesia Bersatu (KKIR) bakal bubar.
“Ya berarti koalisinya bubar dong (kalau Prabowo milih Ganjar),” kata Cak Imin di Kantor DPP PKB, Jakarta, Kamis (16/3).
Kendati begitu, hingga kini Cak Imin belum mendengar adanya partai politik yang menginginkan duet Prabowo-Ganjar. PKB juga tidak tertarik mengusung pasangan tersebut.
Sebelumnya, Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Hashim Djojohadikusumo menyebutkan partainya terbuka untuk memasangkan Ganjar Pranowo sebagai cawapres pendamping capres Prabowo Subianto di pilpres mendatang.
Hashim mengemukakan hal itu menjawab wartawan terkait dengan munculnya skenario menduetkan Prabowo-Ganjar usai pertemuan keduanya bersama Presiden Jokowi dalam acara panen padi di Kebumen, Jateng, Kamis (9/3).
Momen pertemuan Prabowo-Ganjar bersama Jokowi itu memicu berbagai spekulasi dan penafsiran terkait dengan kemungkinan keduanya diusung sebagai capres-cawapres.
Wajar
Sesungguhnya sangat wajar jika Cak Imin menyatakan KKIR bakal bubar bila Prabowo menggandeng Ganjar sebagai cawapres untuk maju di pilpres mendatang.
Betapa tidak? Jika KKIR mengusung Prabowo sebagai capres, tentu menjadi hal lumrah apabila posisi cawapres menjadi hak PKB, dalam hal ini sang ketua umum, Cak Imin.
Setelah sekian lama memimpin PKB dan pernah menjadi menteri, tentu wajar bila Cak Imin ingin “naik kelas” dalam karir politiknya dengan maju dalam pilpres, entah sebagai capres atau setidaknya cawapres.
Sebagai pimpinan partai menengah dengan basis kontituen yang solid di kalangan nahdliyin atau Islam tradisional, PKB bukanlah partai yang bisa dipandang sebelah mata.
Baca juga:
Saat Megawati Jadi Penentu Arah Pilpres 2024
Duet Prabowo-Ganjar Tinggal Nunggu “Restu” Megawati?
Bagi para pengamat dan pelaku politik di Tanah Air, signifikansi posisi PKB dalam proses politik elektoral, terkhusus pilpres, sangatlah penting.
Namun, Cak Imin dan PKB tentu menyadari bahwa tak semua sosok pimpinan partai bakal menjadi capres atau cawapres yang bisa berlaga di pilpres. Bahkan nama-nama yang memiliki elektabilitas tinggi pun belum tentu bisa masuk arena pilpres.
Partai-partai pasti akan melakukan komunikasi, penjajakan dan pembahasan untuk pada akhirnya sampai pada titik temu yang melahirkan keputusan-keputusan politik tentang siapa yang akan diusung sebagai capres-cawapres.
Cak Imin, juga Prabowo, pasti akan terlibat intens dalam negosiasi politik dengan para pimpinan partai lainnya, terutama yang belum memutuskan bakal capres-cawapres yang akan diusungnya, terutama PDIP, dan partai-partai yang tergabung dalam Koalisi Indonesia Bersatu/KIB (Golkar, PPP dan PAN).
Pada titik ini, segala sesuatu masih bisa berubah, termasuk formasi koalisi partai dan kandidat capres-cawapres yang benar-benar bertanding di pilpres. Apakah Cak Imin bakal mendapatkan tiket capres atau cawapres, pada akhirnya semua akan terjawab paling lambat enam bulan ke depan…

