JAKARTA (Sketsa.co) — Apa yang bisa ditafsirkan dari pertemuan Presiden Jokowi dan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri di Istana Merdeka, Jakarta, Sabtu (18/3/2023)?
Pertemuan yang diakhiri dengan makan siang itu berlangsung tiga jam, dan membahas berbagai persoalan, termasuk politik.
“Dalam pertemuan tersebut tentu saja dibahas berbagai hal penting terkait dengan pelaksanaan Pemilu 2024,” kata Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto dalam keterangan tertulis.
Beredar spekulasi bahwa pertemuan Jokowi-Megawati hampir bisa dipastikan juga menyinggung persoalan kandidat calon presiden untuk pilpres mendatang.
Sebagai pemegang mandat untuk memilih dan menentukan bakal capres-cawapres yang akan diusung PDIP, Megawati tentu merasa perlu membahas masalah tersebut dengan sejumlah pihak, termasuk Presiden Jokowi, yang merupakan kader partai.
Baca juga:
Saat Cak Imin Ingin “Naik Kelas”
Saat Megawati Jadi Penentu Arah Pilpres 2024
Tentu Jokowi sedikit-banyak dmintai pendapat dan masukan tentang figur-figur yang dinilai potensial untuk menjadi kandidat presiden yang, kalau pada akhirnya terpilih dalam pilpres, diharapkan bisa meneruskan program strategis yang sudah dilakukan dan dirintis Jokowi.
Akhir Februari lalu, Hasto pernah mengatakan bahwa Megawati akan berdialog dan berkomunikasi dengan berbagai tokoh, khususnya Presiden Jokowi, tentang bakal capres yang akan diusung PDIP.
“Lalu Ibu Mega berdialog dengan Pak Jokowi untuk melihat bagaimana problematika bangsa, bagaimana kepemimpinan ke depan, bagaimana tanggungjawabnya. Setelah kesemuanya dipersiapkan, pada momentum yang tepat, Ibu Megawati akan mengumumkan (nama bakal capres PDIP). Jadi mohon bersabar,” jelas Hasto di Ponorogo, Jawa Timur, Minggu (26/2).
Yang jelas, kata Hasto, capres yang diputuskan Megawati adalah kader PDIP yang berprestasi, bukan sekadar tokoh yang mengandalkan pencitraan. Kader PDIP sendiri yang dipilih karena hal tersebut merupakan tugas parpol mencetak pemimpin bangsa.
Dinamika Pencapresan
Jadi pertemuan Jokowi-Megawati akhir pekan lalu bisa dimaknai sebagai rangkaian dari langkah PDIP untuk menghadapi dinamika politik pencapresan.
Seperti yang kita tahu, sejauh ini baru tiga partai, yakni Nasdem, Demokrat dan PKS yang sudah memastikan bakal mengusung mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan sebagai capres. Tiga partai yuang tergabung dalam Koalisi Perubahan itu tinggal menyisakan “pekerjaan rumah” menetapkan nama cawapres pendamping Anies.
Sementara koalisi partai lain, yakni Koalisi Indonesia Bersatu/KIB (Golkar, PPP dan PAN) maupun Koalisi Kebangkitan Indonesia Raya/KKIR (Gerindra dan PKB) hingga kini tak kunjung menetapkan nama kandidat capres yang akan diusung. Untuk KKIR, jika koalisi itu berlanjut terus, hampir bisa dipastikan Prabowo akan diusung sebagai capres.
Akan halnya KIB, belum ada sinyal sama sekali tentang siapa sosok yang akan diusung sebagai capres. Tampaknya KIB tengah menunggu ajakan pembicaraan serius dengan PDIP tentang siapa sosok yang akan dicapreskan.
Jika pertemuan Jokowi-Megawati akhir pekan lalu bagian dari pencarian dan penetuan sosok yang akan dicapreskan PDIP, agaknya dalam waktu dekat akan ada manuver lanjutan berupa rangkaian pertemuan Megawati dengan pimpinan partai lain.

