JAKARTA: Serangan mendadak pemberontak di Suriah menandai akhir kekuasaan Presiden Bashar al-Assad. Dalam waktu singkat, pemberontak merebut Damaskus dan kota-kota strategis lainnya, termasuk Homs. Langkah ini berhasil memutus jalur logistik antara Damaskus dan wilayah pesisir, yang selama ini menjadi benteng pertahanan Assad dan lokasi pangkalan militer Rusia.
Assad dilaporkan meninggalkan ibu kota menggunakan pesawat menuju tempat yang belum diketahui. Sementara itu, ribuan warga Suriah turun ke jalan merayakan jatuhnya rezim yang telah berkuasa selama lima dekade. Simbol pemerintahan Assad dihancurkan di berbagai sudut ibu kota, dan slogan-slogan anti-Assad menggema di seluruh penjuru kota.
Situasi ini memicu keprihatinan regional. Para pemimpin Arab dan negara-negara besar, termasuk Rusia dan Turkiye, menyerukan solusi politik untuk mencegah eskalasi konflik. Kejatuhan Assad tidak hanya berdampak pada Suriah, tetapi juga mengancam stabilitas kawasan, yang sudah lama terguncang akibat perang saudara.
Pasca-2011, perang di Suriah telah menarik banyak kekuatan asing dan menciptakan krisis pengungsi besar-besaran. Kelompok pemberontak, terutama Hayat Tahrir al-Sham (HTS), kini menjadi pengendali utama wilayah strategis. Meskipun dianggap kontroversial, HTS memainkan peran sentral dalam mengakhiri kekuasaan Assad.
Dalam pidato video, Perdana Menteri Suriah Mohammad Ghazi Jalali menyatakan kesiapannya menyerahkan fungsi pemerintah kepada oposisi transisi. Namun, ketidakpastian tetap membayangi, terutama dengan kaburnya Assad dan ketegangan yang mungkin timbul di antara faksi-faksi pemberontak.
Masa depan Suriah kini berada di tangan rakyatnya. Momen ini memberikan peluang besar untuk membangun negara yang lebih inklusif dan adil, meski tantangan di masa depan tak dapat dihindari. Jalan menuju rekonstruksi Suriah yang damai dan stabil baru saja dimulai.

