JAKARTA: Pemberontakan besar di Suriah telah mengakhiri kekuasaan Presiden Bashar al-Assad, mengakhiri era panjang yang diwarnai tirani. Pemberontak berhasil merebut ibu kota Damaskus dalam serangan kilat, yang memaksa Assad melarikan diri ke lokasi yang belum diketahui. Pesawat yang diduga membawa Assad terlihat menuju kawasan pesisir sebelum tiba-tiba menghilang dari radar, tanpa ada konfirmasi resmi mengenai keberadaannya.
Rakyat Suriah menyambut kabar ini dengan sukacita. Ribuan warga memenuhi jalan-jalan Damaskus, melambaikan bendera dan meneriakkan “Kebebasan”. Simbol kekuasaan Assad dihancurkan, termasuk patung ayahnya, Hafez al-Assad, dan poster-poster yang selama ini mendominasi ruang publik. Pemandangan serupa terlihat di Homs, kota strategis yang juga jatuh ke tangan pemberontak.
Keberhasilan pemberontak membebaskan ribuan tahanan politik menambah semangat perayaan rakyat. Pemimpin oposisi, Hassan Abdul Ghani, menyatakan fokus kini beralih pada pengendalian penuh Damaskus dan wilayah sekitarnya. Kejatuhan Assad memberikan dampak besar di kawasan, dengan banyak pemimpin Arab menyerukan solusi politik untuk mencegah kekacauan lebih lanjut.
Setelah 13 tahun perang saudara yang menelan jutaan korban, rakyat Suriah akhirnya melihat titik terang menuju kebebasan. Pasukan oposisi, terutama Hayat Tahrir al-Sham (HTS), kini memegang kendali sebagian besar wilayah strategis. Kelompok ini sebelumnya berafiliasi dengan Al Qaeda, namun kini menjadi aktor utama di Suriah pasca-Assad.
Hari ini, Suriah berada di persimpangan sejarah. Meski jalan ke depan masih penuh tantangan, rakyatnya menyambut era baru dengan harapan besar. White Helmets, organisasi kemanusiaan, menyebut momen ini sebagai “matahari kebebasan” yang akhirnya menyinari negeri itu.

