JAKARTA (Sketsa.co) — Meski hasil resmi Pilpres 2024 belum ditetapkan oleh KPU, namun kubu pasangan capres-cawapres Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka tampaknya yakin bakal tampil sebagai pemenang merujuk berbagai hasil hitung cepat yang memperlihatkan perolehan suara mereka di kisaran 58%.
Dengan peluang besar menang satu putaran tersebut, kini kubu paslon 02 itu disebut-sebut mulai melakukan pendekatan politik kepada dua kubu paslon lainnya, yakni Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar (01) dan Ganjar Pranowo-Mahfud MD (03).
Pendekatan terutama dilakukan terhadap elite partai pengusung, dalam hal ini Nasdem, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) untuk kubu 01, dan PDI Perjuangan serta Partai Persatuan Pembangunan (PPP) untuk kubu paslon 03. Partai-partai itu adalah pemilik kursi di DPR RI.
Sejumlah analis politik meyakini, cepat atau lambat partai seperti Nasdem dan PKB di kubu 01 yang tidak pernah punya rekam jejak berada di luar pemerintahan sejak era reformasi, bakal bergabung ke kubu 02 jika pada akhirnya paslon ini ditetapkan sebagai pemenang dan berhasil meraih mandat memimpin pemerintahan untuk periode 2024-2029.
Baca juga: Jatuh-Bangun Dinasti Politik di Indonesia
Di kubu koalisi partai pendukung Anies-Cak Imin tersebut, diperkirakan hanya menyisakan PKS yang tak ikut dalam gerbong koalisi pendukung 02. Ini berarti, kemungkinan besar PKS akan tampil sebagai oposisi, peran yang telah dilakoninya selama dua periode pemerintahan Presiden Jokowi (2014-2024).
Sementara di kubu 03, PDIP yang kemungkinan besar tampil lagi sebagai partai dengan perolehan kursi terbanyak di Pileg 2024 meski mengalami penurunan, diprediksi akan menjadi oposisi. Akan halnya PPP, jika lolos kembali ke DPR RI, sangat mungkin bergabung ke koalisi 02, mengingat partai ini juga tak punya riwayat oposisi sejak era reformasi.
Anies & Ganjar
Pertanyaannya, bagaimana sikap Anies Baswedan jika pada akhirnya koalisi partai pendukungnya masing-masing punya langkah politik yang berbeda dengan visi-misinya sebagai kandidat presiden?
Jika melihat dari visi perubahan yang selama ini digaungkan Anies, rasanya kecil kemungkinan mantan Gubernur DKI Jakarta ini akan bersedia turut bergabung ke kubu 02, seandainya tawaran itu datang. Anies sebagai figur “antitesa” Presiden Jokowi, tentu mempertimbangkan soal kredibilitas dan integritasnya sebagai simbol perubahan bagi konstituennya.
Bergabung ke kubu 02 yang jelas-jelas sejak awal mengusung tema keberlanjutan atas program-program pemerintahan Jokowi niscaya menjadi kendala utama bagi Anies untuk melangkah membuat semacam kompromi politik dengan bergabung ke kubu Prabowo-Gibran.
Akan halnya Ganjar Pranowo, sebagai sosok kader partai, mantan Gubernur Jawa Tengah ini tentu akan cenderung mengikuti langkah yang diputuskan Ketua umum PDIP Megawati Soekarnoputri. Ganjar bukanlah tipe “pengkhianat” yang atas nama pragmatisme dan kalkulasi kepentingan personal “tega” meninggalkan partai yang membesarkannya.

