JAKARTA (Sketsa.co) — Regenerasi politisi adalah suatu keniscayaan seiring berjalannya waktu. Politisi tua berangsur surut dan tenggelam digantikan kemunculan politisi muda. Begitu yang terjadi di semua negara, tanpa kecuali di Indonesia.
Sejak merdeka pada 17 Agustus 1945 yang ditandai dengan proklamasi yang dibacakan dwitunggal Soekarno-Hatta, dimulailah babakan baru dalam sejarah negeri yang di masa kolonial bernama Hindia Belanda tersebut. Munculnya tokoh seperti Soekarno yang juga akrab disapa Bung Karno telah menandai terbentuknya secara alamiah keluarga politisi atau yang lazim dijuluki dinasti politik baru.
Dinasti Soekarno eksis hingga kini yang direpresentasikan secara kuat lewat sosok Megawati Soekarnoputri, putri tertua Sang Proklamator. Melalui PDI Perjuangan yang disebut-sebut merupakan wadah kelompok ideologis nasionalis-marhaen, Megawati dan PDIP hadir dan mewarnai perpolitikan nasional sejak menjelang tumbangnya rezim Orde Baru Soeharto pada 1998 hingga sekarang. Kini, putri Megawati, yakni Puan Maharani, menjadi Ketua DPR RI.
Akan halnya Soeharto atau Pak Harto yang menjadi presiden nyaris selama 32 tahun sejak 1967 sekaligus menandai berakhirnya kekuasaan Bung Karno (Orde Lama), ternyata belum berhasil melahirkan generasi politisi baru yang kuat. Dinasti Soeharto sejauh ini belum atau tidak cukup berhasil membangun partai politik, dan tak satupun anaknya yang memainkan peran penting dalam perpolitikan elite kekinian.
Golkar yang identik dengan Pak Harto di masa lalu, kini telah mengubah dirinya menjadi Partai Golkar, dan bersaing ketat di alam reformasi dengan sistem multipartai. Yang menarik, tak satupun putra-putri Soeharto yang menduduki posisi atau peran penting di partai beringin tersebut.
Nyaris belum atau tidak ada tanda-tanda dalam waktu dekat ke depan dinasti Soeharto bakal kembali mewarnai hiruk-pikuk perpolitikan nasional, baik dari kalangan anak maupun cucu.
Demikian juga dengan keluarga BJ Habibie, wakil Soeharto, yang naik menjadi presiden setelah Soeharto mengundurkan diri pada 21 Mei 1998. Praktis sejak Habibie lengser setelah MPR hasil Pemilu 1999 memilih Abdurrahman Wahid sebagai presiden, hingga kini dua putra Habibie tak ada yang terjun ke dunia politik praktis.
Era Reformasi
Abdurrahman Wahid atau akrab disapa Gus Dur yang merupakan cucu pendiri ormas Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) ini, merupakan presiden pertama era reformasi yang dipilih lewat Sidang Umum MPR. Sayang, Gus Dur hanya menjabat sampai tahun 2001, sebelum akhirnya digantikan wakilnya, Megawati Soekarnoputri, yang menjabat presiden hingga 2004.
Dinasti Gus Dur sejauh ini hanya mencatatkan Yenny Wahid yang aktif dalam perpolitikan meski tidak menjadi anggota partai politik manapun. Selebihnya, tiga putri Gus Dur lainnya berkegiatan sosial atau non-politik praktis.
Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) adalah jenderal (purnawirawan) TNI AD yang berhasil menjabat presiden dua periode (2004-2014) melalui pilpres langsung. Menantu Jenderal (Purn.) TNI AD Sarwo Edhie Wibowo (alm) ini berhasil mengukuhkan diri dalam blantika politik nasional kekinian dengan membesut Partai Demokrat.
Dikenal sebagai “keluarga Cikeas”, dua putra SBY, yakni Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) juga memiliki posisi dan peran signifikan dalam percaturan politik nasional. AHY adalah Ketum Partai Demokrat yang baru saja diangkat sebagai Menteri Agraria dan Tata Ruang (ATR)/Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) di kabinet pimpinan Presiden Jokowi.
Akan halnya Ibas, selain jadi salah satu Waketum Demokrat, juga menduduki posisi Ketua Fraksi Demokrat di DPR RI. Dinasti SBY atau Cikeas tampaknya akan terus eksis dan mewarnai perpolitikan nasional setidaknya hingga jangka menengah ke depan.
Baca juga: Jokowi yang Kian Menjauh dari PDIP
Yang termutakhir tentu saja dinasti Jokowi atau “keluarga Solo” yang terbentuk sejak Jokowi muncul dalam pentas nasional menjadi Gubernur DKI Jakarta usai Pilkada 2012 dan lanjut terpilih sebagai presiden dalam Pilpres 2014 dan kini tengah memasuki tahun terakhir periode kedua jabatan presiden setelah terpilih kembali pada Pilpres 2019.
Menariknya, tanpa harus menunggu Jokowi lengser dari jabatan presiden, di Pilpres 2024, dinasti Jokowi berhasil mengukuhkan dirinya dalam percaturan politik nasional dengan menempatkan sang putra sulung, yakni Gibran Rakabuming Raka, sebagai calon wakil presiden bahkan sebelum tugasnya berakhir sebagai Walikota Solo yang diembannya belum genap tiga tahun ini.
Pun sang putra bungsu Jokowi, Kaesang Pangarep, sekonyong-konyong tampil dalam hiruk-pikuk politik dengan menjadi Ketum Partai Solidaritas Indonesia (PSI), hanya selang dua hari setelah resmi menjadi anggota partai yang diklaim mewakili kaum muda tersebut. Selain Gibran dan Kaesang, menantu Jokowi, yakni Bobby Nasution, kini juga menjabat sebagai Walikota Medan, Sumatera Utara.
Selain sejumlah nama keluarga di atas, sejauh ini belum terlihat tanda-tanda kemunculan dinasti politik baru yang cukup berpengaruh di Tanah Air, bahkan termasuk Anies Baswedan yang merupakan cucu salah satu pahlawan nasional Abdul Rasyid Baswedan, yang pada masanya pernah menjadi jurnalis dan pejuang kemerdekaan RI.

