JAKARTA (Sketsa.co) — Seiring bergabungnya Partai Golkar dan Partai Amanat Nasional (PAN) ke koalisi Partai Gerindra dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) untuk mengusung pencapresan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto dalam deklarasi di Jakarta, Minggu (13/8), peta koalisi pendukung capres makin mengerucut menjadi hanya tiga poros kekuatan.
Partai-partai pemilik kursi di DPR RI telah habis terbagi ke dalam tiga poros koalisi: PDIP bersama PPP mengusung pencapresan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo; sementara Nasdem, Demokrat dan PKS mengusung pencapresan mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan melalui Koalisi Perubahan untuk Persatuan. Sisanya, Gerindra, PKB, Golkar dan PAN mengusung pencapresan Menhan/Ketum Gerindra Prabowo Subianto.
Ketiga poros tersebut juga telah memenuhi syarat presidential threshold 20% kursi di DPR RI, sehingga jika tak ada perubahan konfigurasi sampai pendaftaran pasangan capres-cawapres di KPU pada Oktober-November 2023, hampir bisa dipastikan Pilpres 2024 akan diikuti tiga bakal capres tersebut.
Sejauh ini, jika merujuk hasil survei sejumlah lembaga jajak pendapat, elektabilitas Prabowo nyaris selalu berada di peringkat pertama, disusul atau dibuntuti Ganjar Pranowo, sedangkan Anies Baswedan selalu nangkring di peringkat ketiga.
Elektabilitas Prabowo dan Ganjar seringkali dalam angka atau persentase margin of error alias beda-beda tipis, sehingga keduanya masih sangat mungkin bisa tampil sebagai pemenang atau yang kalah dalam kenyataan hasil pemungutan suara.
Anies Tak Diperhitungkan
Dengan elektabilitas yang konsisten selalu di bawah raihan Prabowo dan Ganjar, Anies tampaknya mulai tak diperhitungkan secara serius sebagai salah satu kandidat kuat dalam Pilpres 2024. Indikasi itu terlihat di perbincangan melalui media sosial.
Sebaliknya, persaingan kubu Prabowo dan kubu Ganjar terlihat makin intens dan mengeras. Di media sosial, pendukung kedua kubu tampak saling serang dan menjatuhkan. Sementara serangan terhadap Anies mulai melemah atau mengendor, seiring dengan sosoknya yang dianggap underdog merujuk hasil-hasil survei elektabilitas capres beberapa waktu terakhir.
Sejumlah pengamat menilai salah satu faktor yang bisa membuat elektabilitas Anies terdongkrak signifikan adalah jika figur bakal cawapres yang digandengnya tepat alias bisa menambah magnet elektoral, dan kelihatannya kubu Anies paham betul dengan persoalan ini.
Baca juga: Saat Gibran Jadi Kandidat Cawapres Terkuat Pendamping Prabowo
Sejauh ini, Anies selalu mencoba “menghibur diri” ihwal elektabilitasnya yang selalu di bawah Prabowo dan Ganjar dengan merujuk pengalamannya di Pilkada DKI 2017, di mana hasil survei elektabilitas juga menempatkannya di peringkat ketiga di bawah Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan Agus Harimurti Yudhoyono, namun pada akhirnya dia yang keluar sebagai pemenang akhir dan menjadi Gubernur DKI dengan menyingkirkan Ahok sebagai petahana.
Tentu tak ada yang salah dengan jawaban Anies saat ditanya wartawan tentang elektabilitasnya yang selalu berada di bawah Prabowo dan Ganjar dan optimismenya menghadapi pilpres mendatang dengan merujuk pengalaman di Pilkada DKI 2017. Namun, kubu Anies tentu juga paham betul bahwa medan Pilpres 2024 sangat berbeda karakternya dengan Pilkada DKI 2017.
Mampukah nantinya kubu Anies membalikkan keadaan?

