JAKARTA (Sketsa.co) — Salah satu dampak paling berbahaya dari polusi udara adalah meningkatnya risiko kanker paru-paru, jenis penyakit yang menjadi penyebab utama kematian di antara semua jenis kanker lainnya.
Berdasarkan data IQAir tahun 2021, sekitar 2.500 orang di Jakarta meninggal dunia akibat dampak buruk polusi udara.
Agus Dwi Susanto, anggota Perhimpunan Dokter Paru Indonesia menjelaskan, polusi udara telah menjadi perbincangan utama di dunia kesehatan, terutama oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Namun, banyak orang yang masih belum sepenuhnya menyadari betapa berbahayanya polusi udara.
Menurut Nafas Indonesia, polusi udara disebabkan oleh adanya polutan yang mencemari udara yang kita hirup. Polutan ini memiliki dua bentuk, yaitu partikel padat seperti PM10 atau PM2.5 dan gas seperti karbon monoksida atau nitrogen dioksida.
Partikel PM2.5 adalah partikel padat dengan ukuran kurang dari 2,5 mikrometer atau 36 kali lebih kecil dari diameter sebutir pasir. Ukurannya yang sangat kecil membuat partikel ini berbahaya karena tidak bisa dihalau oleh tubuh.
PM2.5 memiliki dampak negatif terhadap kesehatan. Dampak jangka pendeknya meliputi gangguan perhatian, flu, radang hidung, serangan jantung, ketidakaturan detak jantung, asma, bronkitis, eksim, jerawat, dan penuaan dini.
Sementara dampak jangka panjangnya meliputi penyakit alzheimer, parkinson, stroke, penurunan kognitif, pneumonia, kanker paru-paru, asma, kelahiran prematur, dan penyumbatan pembuluh darah.
Berdasarkan data Nafas Indonesia, rata-rata kadar PM2.5 di Jakarta pada bulan Juli 2023 adalah 47 μg/m³, melebihi batas paparan tahunan yang dianjurkan oleh WHO sebanyak 9 kali lipat. Nafas juga telah merilis laporan yang mencantumkan daftar kota dengan kualitas udara buruk selama Juli 2023. Hasilnya, Serpong, Tangerang Selatan, menjadi kota dengan kualitas udara terburuk dengan kadar PM2.5 mencapai 80 μg/m³.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Berkeley Earth pada tahun 2015, kadar PM2.5 sebanyak 80 μg/m³ setara dengan efek merokok 112 batang rokok per bulan.
Dampak
Agus mengklasifikasikan dampak kesehatan akibat polusi udara menjadi dua, yaitu dampak jangka pendek dan dampak jangka panjang.
Dampak jangka pendek terjadi ketika paparan polutan menyebabkan masalah kesehatan segera setelah terjadi. Penting untuk diingat bahwa polutan, baik berupa gas maupun partikel, umumnya bersifat iritasi.
“Dengan demikian, bisa menyebabkan banyak keluhan jangka pendek seperti mata merah, gatal-gatal pada kulit, sakit tenggorokan, hidung berair, bersin-bersin, bahkan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA),” kata Agus seperti dikutip dalam saluran YouTube DAAI Magazine pada Senin (14/8).
Baca juga: Konsumsi Kuaci Dapat Cegah Masalah Prostat
Agus mengungkapkan kasus ISPA telah meningkat hingga 35% menurut beberapa penelitian, terutama di kota-kota yang mengalami polusi udara.
Hal ini menjadi perhatian serius, terutama bagi individu yang menderita penyakit bawaan seperti asma, penyakit paru-paru kronis, TBC, penyakit jantung, dan gangguan pembuluh darah.
Selain itu, ada dampak jangka panjang yang bisa terjadi ketika seseorang terus-menerus terpapar polutan selama beberapa tahun. Dampak ini meliputi risiko penurunan fungsi paru-paru, peningkatan risiko asma, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), penyakit jantung, masalah pembuluh darah, stroke, hingga risiko kanker paru-paru.

