JAKARTA (Sketsa.co) — Sejak PDI Perjuangan mendeklarasikan Ganjar Pranowo sebagai calon presiden pada 21 April lalu, wacana dan rencana pembentukan koalisi besar partai pro-pemerintahan Presiden Jokowi sekonyong-konyong redup.
Apalagi sejak Partai Persatuan Pembangunan (PPP), salah satu partai anggota koalisi pro-Jokowi, mengambil langkah mendukung pencapresan Ganjar Pranowo oleh PDI Perjuangan. Nasib koalisi besar makin tidak jelas.
Faktanya, manuver PDIP mencapreskan Ganjar pas di Hari Kartini atau sehari menjelang Hari Raya Idul Fitri 1444 Hijriah, memberikan efek kejut luar biasa terhadap hiruk-pikuk rencana pembentukan koalisi besar yang sempat menggelora.
Pencapresan Ganjar telah menjadi game changer, yang membuat partai-partai di luar PDIP melakukan rekalkulasi dan reposisi terhadap arah konstelasi kerjasama politik menjelang hajatan Pilpres 2024.
Koalisi Indonesia Bersatu/KIB yang terdiri dari Golkar, PPP dan PAN tiba-tiba seperti kehilangan relevansi dalam konteks pembahasan rencana pembentukan koalisi besar bersama Koalisi Kebangkitan Indonesia Raya (KKIR) yang beranggotakan Gerindra dan PKB.
Baca juga: Adu Kuat Erick dan Sandiaga untuk Jadi Cawapres Ganjar
Soal nasib pembentukan koalisi besar, Ketum PAN Zulkifli Hasan sempat mengatakan bahwa Presiden Jokowi akan mengajak “ngopi bareng” para pimpinan partai pro pemerintah. Namun, hingga kini belum terlihat gelagat akan ada kumpul-kumpul ngopi bareng yang dimaksud Zulhas.
Yang terjadi justru, para pimpinan partai KIB maupun KKIR sibuk dengan agendanya masing-masing. KIB misalnya, meski sempat menggelar pertemuan tiga pimpinannya, sejauh ini tak ada kesepakatan tentang arah dukungan ke capres tertentu.
PPP memang sudah resmi mencapreskan Ganjar Pranowo, namun langkahnya belum atau tidak menjadi sikap bersama KIB. Golkar dan PAN sebagai anggota KIB lainnya, agaknya masih melihat perkembangan dinamika pencapresan.
Ketum Golkar Airlangga Hartarto misalnya, menggelar pertemuan dengan Ketum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono di Cikeas, Bogor. Pertemuan ini pun tak menghasilkan arah dukungan pilpres, kecuali kesepakatan tentang hal-hal yang bersifat normatif.
Tak Terbendung
Sementara itu, Partai Gerindra dan PKB tampak makin intens menjalin hubungan dalam format KKIR. Agaknya, tekad Gerindra untuk mencapreskan sang ketum, Prabowo Subianto, tak terbendung lagi. Koalisi ini hanya menyisakan soal siapa kandidat cawapres untuk Prabowo.
Menjawab wartawan soal kandidat cawapres pendampingnya, Prabowo mengaku nama tersebut sudah ada di kantongnya. Santer beredar kabar yang menyebutkan Ketum PKB Muhaimin Iskandar alias Cak Imin menjadi kandidat cawapres terkuat untuk Prabowo.
Dengan rangkaian fakta seperti diuraikan di depan, agaknya prospek pembentukan koalisi besar hampir musykil terwujud. Faktanya, manuver dadakan PDIP mencapreskan Ganjar Pranowo telah memporak-porandakan rencana pembentukan koalisi besar. Tiba-tiba wacana koalisi besar buyar…

