JAKARTA (Sketsa.co) — Sejak dideklarasikan di awal Ramadhan lalu, hingga kini Koalisi Perubahan untuk Persatuan (KPP) yang mengusung Anies Baswedan sebagai bakal calon presiden nyaris belum ada perkembangan berarti.
Soal kandidat cawapres yang akan mendampingi mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut berlaga di Pilpres 2024 juga belum ada tanda-tanda bakal segera ditetapkan.
Yang muncul di permukaan hanyalah lontaran usulan nama kandidat cawapres untuk Anies, misalnya yang datang dari Didiek Rachbini, seorang pakar ekonomi politik yang juga mantan politisi Partai Amanat Nasional (PAN).
“Jika masuk ranah PDIP tidak mudah, Mahfud bisa menjadi alternatif sebagai pendamping Anies dengan alasan yang sama, yakni antikorupsi. Keduanya alternatif, pasangan Anies-Mahfud merupakan mesin double gardan untuk memberantas korupsi yang mendarah daging di negeri ini,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (10/4).
Sementara Jusuf Kalla, Wapres ke-10 dan ke-12, sejauh ini hanya memberikan pandangan tentang kriteria cawapres untuk Anies, yakni yang bisa menambah perolehan suara serta yang bisa bekerjasama menjalankan roda pemerintahan jika memenangkan pilpres.
Tentang nama-nama potensial untuk jadi bakal cawapres pendamping Anies, sejauh ini belum berubah banyak dari yang sudah disebut-sebut di awal pembentukan koalisi.
Nasdem misalnya, mewacanakan figur nonpartai seperti Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Demokrat usulkan ketumnya, Agus Harimurti Yudhoyono, sementara PKS secara resmi masih ajukan nama mantan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan.
Sempat juga mencuat nama Menparekraf Sandiaga Uno, yang pernah sukses berduet dengan Anies memenangkan Pilkada DKI Jakarta 2017. Presiden PKS Akhmad Syaiku memberi respons positif munculnya wacana menduetkan kembali Anies dengan Sandiaga sebagai capres-cawapres di pilpres mendatang.
Namun, Demokrat buru-buru menolak kemungkinan Sandiaga menjadi kandidat cawapres pendamping Anies. Alasannya, seperti yang pernah diungkapkan politisi Demokrat Andi Arief, Sandiaga bukan figur perubahan, tapi kolaborator. Hal senada juga dilontarkan Demokrat untuk sosok Mahfud MD, yang dinilai bagian dari rezim saat ini, sehingga tidak mewakili simbol dan semangat perubahan.
Nunggu Koalisi Lain
Tampaknya KPP dan Anies tak akan tergesa-gesa menetapkan bakal cawapres sebelum partai-partai lain memunculkan sinyal yang lebih jelas siapa yang akan diusung sebagai capres-cawapres.
KPP agaknya menunggu dinamika partai-partai pro pemerintahan Jokowi yang gelagatnya akan membentuk koalisi besar, baik yang tergabung dalam Koalisi Indonesia Bersatu (Golkar, PPP dan PAN), Koalisi Kebangkitan Indonesia Raya/KKIR (Gerindra dan PKB), serta PDIP sebagai pemilik golden ticket pencapresan.
Baca juga: Heboh Soal FX Rudy, Ganjar dan Restu Megawati…
Bukan apa-apa. Terbentuk atau tidaknya koalisi besar akan berpengaruh pada konstelasi dan konfigurasi laga pilpres mendatang. Jika enam partai pro Jokowi itu berhasil mencapai kesepakatan koalisi, termasuk nama capres-cawapres yang diusung, maka KPP dan Anies harus berpikir keras dan berhitung cermaqt untuk menggandeng sosok cawapres yang dianggap bisa menaikkan elektabilitas secara meyakinkan.
Misalnya, koalisi besar pro Jokowi akhirnya mengusung duet capres-cawapres Prabowo Subianto-Ganjar Pranowo atau sebaliknya, Ganjar-Prabowo, tentu itu akan menjadi kompetitor berat yang tak mudah dikalahkan.

