Sketsa.co
  • News
  • Ekonomi Bisnis
  • Historia
  • Lowongan Kerja
  • Event
  • Finansial
  • Internasional
  • Obituari
  • Opini
Reading: Survei: Dari Memotret Opini Hingga Menggiring Opini
Share
Aa
Aa
Sketsa.co
  • Home
  • News
  • Internasional
  • Ekonomi Bisnis
Search
  • Home
    • Home 1
    • Home 2
    • Home 3
    • Home 4
    • Home 5
  • Categories
    • Tech News
  • Bookmarks
  • More Foxiz
    • Sitemap
Follow US
  • Contact
  • Blog
  • Complaint
  • Advertise
© 2023 Raka. All Rights Reserved.
Home » Blog » Survei: Dari Memotret Opini Hingga Menggiring Opini
Opini

Survei: Dari Memotret Opini Hingga Menggiring Opini

Jika lembaga survei tidak terbuka dan transparan soal sumber pembiayaan survei, maka kredibilitas hasil survei tersebut patut dipertanyakan atau diragukan validitasnya.  

Last updated: Jumat, 5 Januari 2024, 2:08 PM
By Sarjito Hambeng
Share
3 Min Read
Ilustrasi bandwagon effect. (Gambar/Istimewa)
SHARE

JAKARTA (Sketsa.co) — Maraknya rilis hasil survei elektabilitas pasangan calon presiden-calon wakil presiden dalam kontestasi Pilpres 2024 telah mengundang banyak tanya, kalau bukan sejenis gugatan.

Betapa tidak? Selain sejumlah lembaga survei yang telah punya rekam jejak atau pengalaman memadai dalam kegiatan survei pilpres atau pilkada, sekonyong-konyong muncul pula beberapa lembaga penyelenggara survei dadakan dengan hasil polling yang “mengejutkan”, kalau bukan “mengagetkan”.

Faktanya, survei dan hasil survei bisa tak lagi sekadar sebagai alat untuk “memotret opini publik” secara berkala atau periodik, namun survei juga bisa menjadi intsrumen untuk “menggiring opini”. Pada titik ini, yang paling krusial tentu saja survei terkait dengan politik, dalam hal ini pemilu atau pilpres.

Baca juga: Proyek IKN dan Peluang Anies-Cak Imin di Pilpres 2024

Survei bisa menjadi alat politik untuk penggiringan opini tatkala hasil survei dirilis ke media, entah media jurnalistik maupun media sosial. Hasil survei yang memperlihatkan keunggulan pihak tertentu akan diamplifikasi sedemikian rupa melalui “mesin” publikasi media, sehingga akan memunculkan apa yang sering disebut sebagai bandwagon effect.

Istilah itu menggambarkan fenomena psikologi di mana seseorang cenderung mengikuti tren, gaya, sikap, dan lain sebagainya karena melihat banyak orang turut melakukan hal yang sama.

Dalam konteks hasil survei politik yang memperlihatkan keunggulan calon tertentu, maka publikasi hasil survei diharapkan akan mempengaruhi banyak orang untuk mengikuti kecendrungan yang mengunggulkan calon tersebut, sehingga sang salon pada akhirnya diuntungkan dengan efek ikut-ikutan tersebut.

Bertentangan

Saat survei menjadi instrumen politik untuk penggiringan opini publik, maka yang tak terelakkan pun bisa muncul, yaitu “perang” antar lembaga survei. Yang terjadi kemudian adalah sesuatu yang secara akademik dan ilmiah jadi problematik, ketika satu-dua lembaga survei merilis hasil survei yang memperlihatkan keunggulan calon tertentu, di pihak lain sejumlah lembaga survei merilis hasil survei yang bertolak belakang, yakni mengunggulkan calon lain (kompetitor).

Tentu tak mungkin sekian hasil survei elektabilitas capres-cawapres  yang bertentangan atau bertolak belakang satu sama lain semuanya benar. Pasti ada yang salah. Persoalannya, kesalahan itu disengaja atau tidak?

Kita tak akan berdebat soal metodologi survei, karena ini menyangkut ranah teknis ilmiah, termasuk teknik pengambilan sample yang representatif alias benar-benar mewakili gambaran populasi.

Yang tak kalah krusial adalah pembiayaan survei, apakah dilakukan secara mandiri atau dibiayai pihak ketiga yang terafiliasi atau terkait dengan kepentingan calon yang tengah berkontestasi.

Untuk memudahkan mengukur tingkat kredibilitas hasil survei, langkah pertama yang mesti dilihat adalah apakah lembaga penyelenggara survei tersebut terbuka dan transparan terhadap pembiayaan survei.

Jika lembaga survei tidak terbuka dan transparan soal sumber pembiayaan survei, maka kredibilitas hasil survei tersebut patut dipertanyakan atau diragukan validitasnya.

You Might Also Like

Lurah: Jembatan Emas di Persimpangan BUMDes dan Koperasi Desa Merah Putih

Membaca Ketegangan Naratif Kubu Pro Prabowo Vs Kubu Pro Jokowi

Pramono Anung dan Posisi PDIP sebagai Mitra Strategis Pemerintahan Prabowo Subianto

Pudarnya Pamor Jokowi dan Moncernya Pamor Prabowo di Mata Internasional

TAGGED: kredibilitas survei, memotret opini, menggiring opini, pembiyaan survei, Pilpres 2024, survei opini, survei politik
Sarjito Hambeng 5 Januari 2024
Share this Article
Facebook Twitter Copy Link Print
Share
What do you think?
Love0
Sad0
Happy0
Sleepy0
Angry0
Dead0
Wink0
Previous Article Proyek IKN dan Peluang Anies-Cak Imin di Pilpres 2024
Next Article Saat Anies & Ganjar “Bersatu” Melawan Prabowo
Leave a comment

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Popular Articles

Latest News

Pindah KTP Antar-Provinsi Sekarang Lebih Gampang
Syarat Pelamar Manajer Kopdes dan Kampung Nelayan Merah Putih
Pemerintah Buka 30.000 Lowongan Manajer Kopdes Merah Putih, Status Pegawai BUMN
Selamat Datang “Ijazah Blockchain”
Apa Kabar Industri Kripto Iran
SuarNews.com
- Advertisement -
Sketsa.co
Follow US

© 2022 Raka Design Company. All Rights Reserved.

  • About Us
  • Contact
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Siber
  • Redaksi

Removed from reading list

Undo
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?