Seri Perencanaan Finansial
JAKARTA (Sketsa.co) — Setiap orang punya profil risiko atau investment style yang berbeda-beda. Ada yang berani mengambil risiko, ada yang kurang berani atau ragu-ragu, ada pula yang benar-benar takut mengambil risiko.
Profil risiko atau invesment style ini sepertinya sudah menyatu dengan pembawaan seseorang.
Adler H. Manurung, seorang praktisi dan pakar finansial, menggolongkan profil risiko seseorang atau investor ke dalam tiga golongan besar yaitu tipe risk averse, risk lover dan risk moderate.
Tipe risk averse adalah tipe orang atau investor yang enggan mengambil risiko atau cenderung berusaha menghindari risiko. Tipe risk lover adalah tipe orang atau investor yang menyukai atau akrab dengan risiko. Sedangkan tipe risk moderate adalah tipe orang atau investor yang tenang atau tidak ekstrim dalam menghadapi risiko.
Mengapa seseorang memiliki profil risiko yang berbeda-beda satu sama lain? Belum ada penjelasan yang komprehensif. Namun salah satu faktor yang konon turut membentuk karakter atau kepribadian seseorang dalam menghadapi risiko adalah pengalaman psikologis semasa kanak-kanak.
Menurut Ketua Umum Financial Planning Association Indonesia (FPAI) Tri Djoko Santoso, ada sejumlah riset dari negara Barat yang menunjukkan bahwa anak sulung kurang berani mengambil risiko. Mereka umumnya cenderung bersikap hati-hati dan menahan diri ketika dihadapkan pada risiko.
“Ini karena pengaruh dari kondisi psikologisnya semasa kanak-kanak. Anak sulung biasanya mendapatkan perhatian dan kasih sayang yang lebih intens dan fokus dari orang tuanya dibandingkan anak-anak yang lahir kemudian,” katanya mengutip hasil riset yang dilansir dari negara Barat tersebut.
Karena mendapatkan perhatian dan kasih sayang yang memadai sehingga tumbuh dalam suasana yang well-protected (terlindung dengan baik), maka anak sulung cenderung menjadi pribadi yang save player dan tidak menyukai risiko. Ia lebih suka menghindari risiko, menjadi risk avoider atau risk averter.
“Nggak usah jauh-jauh, contohnya saya sendiri. Saya adalah anak ketiga dari sembilan bersaudara. Saya merasa lebih biasa mengadapi risiko dibandingkan kakak sulung saya,” kata Tri Djoko.
Tapi bagaimana jika ada anak sulung sejak kecil tidak mendapatkan perhatian dan kasih sayang yang memadai? Apakah mereka akan tetap tumbuh menjadi pribadi yang risk averter atau malah sebaliknya menjadi risk seeker (menantang risiko)?
Untuk menjawab pertanyaan ini, tampaknya perlu kajian khusus lebih dulu.
Ada Parameternya Lho!
Di bidang financial planning, sebenarnya sudah dikenal adanya parameter untuk mengukur kepribadian atau karakter profil risiko seseorang. Parameter ini tergolong sederhana karena hanya berisi delapan butir pertanyaan pilihan berganda.
Namun jika seseorang bersedia menjawab delapan butir pertanyaan tersebut dengan jujur dan lugas—artinya benar-benar sesuai dengan kondisi diri orang tersebut—maka dijamin akan menghasilkan gambaran profil risiko atau investment style yang kredibel.
Apakah Anda termasuk orang bertipe risk averse, risk lover atau risk moderate, akan bisa dideteksi begitu Anda selesai menjawab seluruh butir pertanyaan tersebut. Syaratnya hanya satu, yaitu tadi, Anda harus bersedia menjawab secara jujur. Itu saja.
Dari jawaban-jawaban yang Anda berikan, mungkin Anda akan terdeteksi sebagai “tipe agresif” atau “tipe berkembang.” Kalau Anda masuk tipe ini, berarti Anda menjadi anggota kelompok pencinta risiko (risk lover).
Namun jika Anda terdeteksi sebagai “tipe seimbang”, maka Anda harus puas menjadi anggota kelompok moderat (risk moderate). Sedangkan jika Anda terdeteksi sebagai “tipe konservatif” atau “sangat konservatif”, maka Anda tidak boleh sewot jika digolongkan sebagai orang yang takut risiko (risk avoider atau risk averter).
Profil risiko yang muncul setelah Anda menjawab delapan pertanyaan tersebut tidak mungkin berubah secara cepat dan diametral.
Artinya, jika Anda menjalani tes ulang, maka hasil tes tersebut tidak mungkin berlawanan dengan hasil tes sebelumnya sejauh Anda telah menjawab seluruh butir pertanyaan dengan jujur dan benar-benar sesuai kenyataan.
Maka jika hasil tes Anda yang sebelumnya menggolongkan Anda ke dalam kategori risk lover, maka tes berikutnya tidak mungkin tiba-tiba mengubah profil risiko Anda menjadi risk averter.
Kalaupun ada perbedaan, tidak akan sediametral itu. Yang berubah paling-paling hanya total skor atau nilainya saja. Tidak mungkin seseorang yang semula masuk kategori risk lover, kemudian di test ulang dan tiba-tiba hasilnya masuk kategori risk averter.
Hal ini terjadi karena profil risiko atau investment style seseorang sebenarnya lebih dekat dengan pembawaan atau karakter pribadi seseorang. Dalam ilmu psikologi, pembawaan atau karakter dasar seseorang merupakan sesuatu yang tidak mudah berubah.

