JAKARTA (Sketsa.co) — Melihat tren sejumlah hasil survei elektabilitas pasangan capres-cawapres hingga kini, banyak pihak meramalkan Pilpres 2024 akan berlasung dua putaran.
Hal ini bukan saja karena adanya tiga pasangan calon (paslon), tetapi lebih karena belum ada paslon yang dapat memastikan elektabilitas di atas 51%.
Terkait dengan kemungkinan pilpres bakal berlangsung dua putaran, maka salah satu spekulasi yang berkembang adalah tentang potensi bergabungnya kubu duet Ganjar Pranowo-Mahfud MD dengan kubu Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar (Cak Imin).
Dengan fakta hasil survei sejumlah lembaga, termasuk Litbang Kompas, maka menjadi sebuah keniscayaan bahwa kubu Ganjar-Mahfud dan Anies-Imin perlu berkoalisi untuk bisa mengalahkan Prabowo-Gibran di putaran kedua.
Pertanyaannya, mungkinkah kubu Ganjar dan Anies bersatu di putaran kedua? Secara sederhana, jawabnya tentu saja “tak ada yang tak mungkin dalam politik”. Dan bukankah “musuh dari musuhku adalah temanku.” Namun tentu saja kenyataan politik yang ada tak sesederhana yang dibayangkan.
Satu hal, bersatunya kubu 01 (Anies-Imin) dan 03 (Ganjar-Mahfud) dianggap dapat memberikan kekuatan politik yang besar di pemerintahan dan DPR jika paslon yang mereka dukung berhasil mengalahkan kubu 02 di putaran kedua.
Namun, sedikitnya ada tiga hambatan yang membuat koalisi antara kubu 01 dan 03 nyaris mustahil disatukan.
Pertama, sulitnya menyatukan dukungan pada level “akar rumput” antara kubu 01 dan 03 karena perbedaan preferensi ideologis pendukung mereka. Kedua, hubungan yang kurang harmonis antara tokoh-tokoh kuat di kedua kubu, seperti Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri dan Ketum Nasdem Surya Paloh. Ketiga, perbedaan mendasar dalam mazhab politik partai pendukung, seperti PDIP dan PKS.
Kemungkinan Lain
Jika kalah, kemungkinan lain koalisi partai pendukung Anies-Imin tak lagi solid, alias terpecah, di putaran kedua. Boleh jadi Nasdem dan PKB akan merapat ke koalisi pendukung Ganjar-Mahfud, sedangkan PKS sangat mungkin masuk dalam barisan koalisi pendukung Prabowo-Gibran.
Sebaliknya, kalau Anies-Cak Imin yang lolos ke putaran kedua, bisa jadi koalisi partai pendukung Ganjar-Mahfud terpecah. PPP bisa jadi merapat ke Anies-Cak Imin, sementara PDIP boleh jadi ke koalisi pro-Prabowo-Gibran. Atau mungkin saja, baik PPP dan PDIP sama-sama mendukung Anies-Cak Imin.
Baca juga: Akankah Manuver JK Dukung Anies-Cak Imin Berimbas ke Elektabilitas Prabowo-Gibran?
Yang pasti, jika Ganjar-Mahfud lolos putaran kedua berhadapan dengan Prabowo-Gibran, duet itu sangat mungkin keluar sebagai pemenang kalau dukungan suara pro-Anies-Cak Imin solid pindah ke Ganjar-Mahfud. Pun begitu sebaliknya jika yang lolos putaran kedua berhadapan dengan Prabowo-Gibran adalah Anies-Cak Imin. Duet ini sangat mungkin memenangkan pilpres jika suara pendukung Ganjar-Mahfud solid pindah ke mereka.
Dengan asumsi paslon Prabowo-Gibran hampir bisa dipastikan lolos ke putaran kedua, duet Ganjar-Mahfud dan Anies-Cak Imin sesungguhnya kini tengah bertarung untuk memperebutkan satu tiket lainnya ke babak final…

