JAKARTA (Sketsa.co) — Presiden Joko Widodo memberikan tanggapan terkait hubungannya dengan Partai Golkar. Dia mengaku merasa nyaman dengan hubungan yang terjalin bersama “Partai Beringin” tersebut.
Pernyataan ini disampaikannya dalam sesi tanya jawab dengan wartawan setelah meresmikan Jembatan Otista di Kota Bogor, Jawa Barat, Selasa (19/12).
Awalnya, wartawan menanyakan tanggapan terhadap pernyataan Partai Golkar yang menyebut bahwa Presiden merasa nyaman dengan partai yang memiliki lambang pohon beringin tersebut. Pernyataan ini muncul setelah Presiden Jokowi mengenakan dasi kuning saat berangkat ke Jepang pada Sabtu (16/12).
Dengan senyum, Jokowi menjawab bahwa saat ini ia tidak memakai dasi. Saat wartawan mengulangi pertanyaan mengenai perasaannya di Partai Golkar, Jokowi dengan yakin menyatakan bahwa ia merasa nyaman. Wartawan kemudian menanyakan kembali, “Kalau soal nyaman itu bagaimana, Pak? Nyaman enggak, Pak?” dan Jokowi kembali mengonfirmasi bahwa dia merasa nyaman, disertai tawa.
Sebelumnya, politikus Partai Golkar, Ravindra Airlangga, menyebut penampilan Jokowi dengan dasi kuning sebagai tanda bahwa Presiden merasa nyaman dengan partai tersebut. Meski pertanyaan mengenai dasi kuning awalnya disertai tawa, Jokowi memberikan jawaban yang lugas dan mengisyaratkan makna tertentu dengan penampilannya.
Sebelumnya, Presiden Jokowi memakai dasi berwarna kuning saat berangkat ke Tokyo, Jepang, dari Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Sabtu lalu.
Warna dasi yang dikenakan Kepala Negara pun menarik perhatian wartawan yang meliput. Saat Presiden memberikan keterangan pers, awak media menanyakan perihal dasi kuning tersebut. “Pak, memakai dasi kuning maknanya apa ? Tumben Pak, pakai dasi kuning,” tanya wartawan.
Mendengar pertanyaan wartawan, Presiden Jokowi yang sudah akan mengakhiri sesi keterangan pers mendadak memegang dasinya. Dia pun tersenyum dan memberikan jawaban. “Masak enggak tahu (artinya) ?,” ujar Jokowi.
Renggang
Hubungan Jokowi dengan partainya, PDI Perjuangan, belakangan merenggang sejak putra sulungnya, Gibran Rakabuming Raka, menjadi cawapres bagi Prabowo Subianto, Ketum Partai Gerindra yang juga menjabat Menteri Pertahanan. Duet Prabowo-Gibran diusung koalisi Gerindra, Golkar, PAN dan Demokrat.
Namun, sejauh ini, Jokowi belum menyatakan diri keluar dari partai pimpinan Megawati Soekarnoputri tersebut atau dinyatakan dipecat dari PDIP. Sedangkan Gibran, yang juga kader PDIP, disebut-sebut sudah dinyatakan bukan lagi anggota partai banteng.
Selama ini Jokowi memang tampak nyaman berhubungan atau bekerjasama dengan sejumlah petinggi Golkar. Beberapa yang menonjol, sebut saja Luhut Binsar Pandjaitan, Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi, juga Airlangga Hartarto, Ketum Golkar sekaligus Menko Perekonomian. Satu lagi yang juga menonjol, Bahlil Lahadalia, Menteri Investasi/Kepala BKPM.
Baca juga: Jika Skenario Ini Terjadi, Prabowo-Gibran Bisa Kalah
Terutama dengan Luhut Binsar, Jokowi kelihatan sekali sangat mengandalkan pensiunan jenderal TNI Angkatan Darat yang kini juga menjabat sebagai Ketua Dewan Penasihat Partai Golkar tersebut.
Telah menjadi pengetahuan umum bahwa Jokowi begitu dihormati dan disegani di kalangan elite Golkar, melebihi yang dia terima di PDIP di mana dia diperlakukan tak lebih sebagai kader terbaik, dan bahkan sekadar “petugas partai”.
Jadi, adakah kenyamanan Jokowi di lingkungan Golkar itu akan ditingkatkan levelnya dalam bentuk resmi pindah ke Partai Beringin?
Dari memakai dasi kuning menjadi mengenakan jaket kuning, kenapa tidak?

