JAKARTA (Sketsa.co) — Calon presiden nomor urut 2 Prabowo Subianto mengaku akan bersikap ksatria jika kalah dalam Pilpres 2024. Ketua Umum Partai Gerindra itu juga berjanji akan menghormati paslon yang memenangkan pilpres mendatang.
Sebaliknya, jika dia mendapat mandat dari rakyat untuk memimpin bangsa, dia akan merangkul semua kekuatan.
“Saudara-saudara siapa pun yang menang nanti, mendapat mandat, saya akan hormat, kalau bukan saya yang menang saudara-saudara sekalian, tapi kalau saya yang menerima mandat, saya akan merangkul semua kekuatan,” kata Prabowo dalam acara Relawan Pedagang Indonesia Maju (Rapim) di Djakarta Theater, Jakarta, Jumat (8/12).
Mantan Danjen Kopassus itu akan menghormati keputusan dan kehendak rakyat di pilpres nanti. Dia pun bercerita sudah pernah dua kali dikalahkan oleh Jokowi dalam pilpres, namun dia tetap datang saat Jokowi dilantik dan kini bersahabat.
Dalam Pilpres 2024 ini, Prabowo berpasangan dengan Walikota Surakarta Gibran Rakabuming Raka sebagai cawapres. Gibran adalah putra sulung Presiden Jokowi. Pencalonan keduanya diusung koalisi Gerindra, Golkar, PAN, dan Partai Demokrat, serta sejumlah partai non-parlemen.
Elektabilitas Tinggi
Pasangan capres-cawapres Prabowo-Gibran sejauh ini menempati elektabilitas tertinggi di kisaran 39%-40% menurut sejumlah hasil jajak pendapat, termasuk survei Litbang Kompas yang dianggap memiliki kredibilitas paling meyakinkan.
Dengan modal elektabilitas yang besar dan meyakinkan itu, beberapa analis menilai ada peluang bagi paslon nomor 2 itu bisa memenangkan Pilpres 2024 dengan hanya satu putaran.
Tentu saja hal itu mengandaikan bahwa sisa kurang dari dua bulan menjelang pemungutan suara pada 14 Februari 2024, elektabilitas paslon tersebut bisa terdongkrak di kisaran 10%.
Elektabilitas Mentok
Nah, di situlah letak permasalahannya. Sejumlah pihak justru meragukan hal itu bisa dicapai, mengingat raihan elektabilitas paslon nomor 2 yang kini stabil di kisaran 39%-40% itu dinilai sudah mentok, alias sulit bisa diungkit untuk naik lagi secara signifikan.
Sementara itu, jika paslon nomor 2 dipaksa untuk menghadapi putaran kedua, ada risiko paslon nomor berapapun yang melawannya, justru berpotensi memenangkan babak final Pilpres 2024.
Jika yang menjadi lawan adalah paslon nomor 1 (Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar), sangat mungkin mayoritas suara pendukung paslon yang gagal lolos (dalam hal ini nomor 3 Ganjar Pranowo-Mahfud MD) akan migrasi ke paslon nomor 1.
Baca juga: Menanti Aksi Gibran, Cak Imin dan Mahfud di Debat Cawapres
Jika itu yang terjadi niscaya akan mengulang kisah Pilkada DKI 2017 di mana pasangan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat yang meraih suara tertinggi dengan 42,5% di putaran pertama, harus menelan kekalahan di putaran kedua menghadapi duet Anies Baswedan-Sandiaga Uno yang mendapat limpahan suara nyaris penuh (17%) dari pasangan Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni yang gagal di putaran pertama.
Pun begitu sebaliknya jika paslon nomor 3 yang menghadapi paslon nomor 2 di putaran kedua. Ada kemungkinan sebagian besar suara pendukung paslon nomor 1 akan migrasi ke paslon nomor 3 di putaran kedua.
Dengan kata lain, dengan asumsi pasangan Prabowo-Gibran melaju ke putaran kedua, tak ada jaminan bahwa paslon nomor 2 ini akan memenangkan laga final Pilpres 2024…

