JAKARTA (Sketsa.co) — Beberapa hari lalu, pegiat media sosial Denny Siregar membuat polling di akun X (dulu Twitter) tentang siapa dari dua nama ini—Mahfud MD dan Ridwan Kamil—yang paling cocok menjadi bakal calon wakil presiden pendamping bakal capres Ganjar Pranowo.
Sebagai pendukung “garis keras” Ganjar Pranowo, Denny Siregar tentu tak sekadar iseng asal comot dua nama tersebut untuk dipasang-pasangkan sebagai bacawapres bagi bacapres PDIP Ganjar Pranowo, meski sekadar untuk simulasi polling di medsos.
Sebagai influencer (pemengaruh) papan atas, Denny tentu punya kalkulasi njlimet, juga sangat mungkin info meyakinkan tentang kans Mahfud MD dan Ridwan Kamil (RK) untuk ditimang dan ditimbang sebagai bacawapres Ganjar.
Munculnya nama RK sebagai bacapres potensial untuk Ganjar terjadi usai terungkapnya pertemuan mantan Gubernur Jawa Barat tersebut dengan Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri di Jakarta, Selasa (5/9). RK menemui Megawati di kediaman Presiden RI ke-5 itu di kawasan Jalan Teuku Umar, Jakarta Pusat, di sela-sela menghadiri pelantikan Penjabat Gubernur Jabar di Istana Negara.
Spekulasi yang berkembang menyebutkan PDIP tengah mempertimbangkan RK yang saat ini menjabat Wakil Ketua Umum Partai Golkar itu untuk menjadi bacawapres bagi Ganjar Pranowo.
Ketua Dewan Pakar Partai Golkar Agung Laksono menyebut partainya tidak bisa melarang RK jika ingin maju sebagai cawapres, termasuk jika menjadi cawapres Ganjar Pranowo di Pilpres 2024.
“Kami tidak mudah untuk melarang-larang orang, untuk maju kariernya,” kata Agung Laksono saat melakukan kunjungan ke Kota Cirebon, Sabtu (9/9).
Sosok RK tentu memiliki nilai tambah tersendiri jika dipasangkan dengan Ganjar sebagai capres-cawapres. Ridwan Kamil adalah tokoh populer yang pernah menjadi Walikota Bandung dan Gubernur Jabar—provinsi yang selalu menjadi titik lemah kandidat capres PDIP. Menggandeng RK tentu saja bisa mengompensasi “kelemahan” tersebut. Bukankah Ganjar sudah relatif kuat di Jawa Tengah dan Jawa Timur?
Mahfud MD
Akan halnya sosok Mahfud MD (kini Menko Polhukam), yang bersangkutan adalah politisi senior dengan pengalaman segudang. Karir politiknya merentang sejak ditunjuk Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai Menteri Pertahanan pada 1999. Mahfud sebelumnya “hanya” dikenal sebagai dosen di Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta.
Setelah tak menjadi Menhan, Mahfud aktif di PKB dan pernah menjadi anggota DPR mewakili partai yang dideklarasikan pembentukannya oleh Gus Dur usai tumbangnya rezim Orde Baru pada 1998 itu. Tentu saja, seperti orang dari Madura pada umumnya, secara sosiologis Mahfud berlatar nahdliyin/NU — ormas Islam terbesar di Tanah Air.
Setelah tak menjadi anggota DPR, Mahfud pernah menjadi Ketua Mahkamah Konstitusi. Posisi ini seperti meneguhkan kepakaran Mahfud di bidang hukum, terutama hukum tatanegara.
Baca juga: Kandidat Cawapres Prabowo: Airlangga, Erick atau Gibran?
Menjelang Pilpres 2019, Mahfud pernah hampir didapuk menjadi cawapres pendamping Jokowi. Namun, peluangnya tiba-tiba sirna setelah konsorsium koalisi partai (PDIP, Nasdem dan PKB) di menit-menit terakhir sepakat menunjuk Maruf Amin sebagai cawapres.
Dengan latar belakang sebagai cendekiawan muslim NU, Mahfud tentu memenuhi kriteria konvensional PDIP yang selalu menggandeng cawapres dari kalangan nahdliyin sejak Megawati nyapres pada 2024 hingga Jokowi (2014 dan 2019).
RK adalah tokoh dari tanah Pasundan, sementara Mahfud salah satu tokoh populer NU saat ini. Siapa yang akan terpilih mendampingi Ganjar Pranowo maju di pilpres mendatang?

