JAKARTA (Sketsa.co) — Kepala Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) Partai Demokrat Andi Arief tidak ingin bakal calon wakil presiden (bacawapres) pendamping bacapres Anies Baswedan diumumkan di detik-detik terakhir seperti yang diisyaratkan Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh.
“Koalisi lain mungkin punya strategi pengumuman (bakal) cawapres last minute. Koalisi Perubahan tidak harus demikian,” kata Andi Arief saat membagikan cuitannya di media sosial kepada wartawan, Senin (7/8).
Andi menyebut akan keliru jika nantinya pendamping Anies di Pilpres 2024 diumumkan terakhir. “Bisa keliru jika dua menit terakhir penentuan cawapres. Partai Demokrat berbeda pendapat dengan Pak Surya Paloh. Saatnya Anies Baswedan mandiri dan tentukan sikap,” ujarnya.
Sebelumnya, Surya Paloh memberi sinyal bahwa pengumuman cawapres Anies akan dilakukan di saat-saat akhir menjelang pendaftaran ke Komisi Pemilihan Umum (KPU). Dia menyebutkan bahwa penentuan di akhir bukan berarti koalisi tidak solid.
“Ibarat pertandingan sepak bola internasional seperti Piala Dunia yang kawan-kawan ikuti, dua menit terakhir, bisa berubah semuanya. Nasdem juga belajar itu,” kata Surya Paloh dalam satu diskusi dengan kalangan wartawan di Padang, Minggu (6/8).
Paloh mengakui ada banyak desakan dari internal koalisi maupun eksternal agar nama bacawapres Anies segera diumumkan. “Kalau ada pihak yang tidak mau sabar, kita katakan sabar,” katanya.
Paloh juga menyebutkan Nasdem tidak terlalu memberikan tekanan kepada Anies mengenai sosok dan waktu pengumuman cawapres, karena Nasdem sudah menjadi partai pertama yang mengumumkan nama capres untuk Pemilu 2024.
Makin Alot
Reaksi cepat Andi Arief terhadap pernyataan Surya Paloh yang mengisyaratkan bacawapres Anies akan diumumkan last minute atau menjelang pendaftaran pasangan capres-cawapres di KPU pada Oktober-November 2023 tentu menimbulkan sejumlah spekulasi.
Pertama, bahwa informasi yang menyebutkan nama bacawapres sudah memngerucut satu nama dan telah dikantongi Anies agaknya masih berpeluang berubah. Siapapun nama sosok yang sudah ada di kantong Anies, sejauh belum didaftarkan di KPU tetaplah bersifat tentatif, belum pasti.
Kedua, dengan pengumuman pada detik-detik akhir menjelang pendaftaran di KPU, maka partai-partai yang tergabung dalam Koalisi Perubahan untuk Persatuan (KPP), yakni Nasdem, Demokrat dan PKS, tak punya keleluasaan untuk menentukan sikap politik baru (berubah haluan) jika nama bacawapres yang diumumkan nantinya tidak sesuai yang disepakati bersama.
Baca juga: Kala Gibran Dikaitkan dengan Uji Materi Usia Capres-Cawapres di MK
Sejauh ini, Nasdem dan Demokrat tampak mengalami tarik-menarik yang cukup keras terkait dengan bacawapres pendamping Anies. Di satu sisi, Nasdem menghendaki bacawapres berlatarbelakang nahdliyin (NU), sementara Demokrat cenderung mengusulkan sosok dengan elektabilitas memadai.
Waketum Nasdem Ahmad Ali pernah mengatakan dirinya akan sangat bahagia bila Anies menjadikan Yenny Wahid sebagai bacawapresnya, sedangkan Demokrat tetap berharap Anies menggandeng sang ketum, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sebagai bacawapres karena elektabilitasnya relatif tinggi.
Agaknya, soal nama bacawapres pendamping Anies memang belum menemukan titik temu…

