JAKARTA (Sketsa.co) — Meski wacana munaslub telah dibantah, tak serta merta adanya keresahan di internal Partai Golkar teredam seiring dengan belum jelasnya arah keputusan partai tersebut dalam menghadapi Pemilu 2024, termasuk Pilpres.
Isu Munaslub Golkar mula-mula digulirkan oleh anggota Dewan Pakar Partai Golkar Ridwan Hisjam yang menyebut bahwa Dewan Pakar Golkar ingin mengevaluasi hasil Musyawarah Nasional (Munas) Partai Golkar 2019.
Evaluasi itu terkait dengan penetapan Arilangga Hartarto sebagai bakal calon presiden Golkar untuk Pilpres 2024. Bahkan, katanya, tidak menutup kemungkinan ada munaslub untuk mencopot Airlangga sebagai ketua umum.
“Ya, apabila keputusan munas itu bukan Airlangga jadi calon presiden, berarti harus munaslubkan, karena harus mengubah keputusannya. Jadi, munaslub dalam rangka mengubah keputusan Airlangga (agar ditentukan) bukan (sebagai) calon presiden. Bisa calon lain kan, apakah yang lainnya, saya ndak sebut nama, nah itu bisa juga,” kata Ridwan saat dihubungi wartawan, Minggu (9/7).
“Karena munaslub, maka pergantian ketua umum, bisa mengarah ke sana. Tergantung pemilik suara, kita kan bukan pemilik suara,” ujarnya.
Ridwan menilai perlu ada tokoh superhebat untuk menggantikan Airlangga mengingat pelaksanaan Pemilu 2024 tinggal hitungan bulan.
“Kalau sekarang menurut pendapat saya, karena ini tinggal enam bulan (Pemilu 2024) sampai Februari, harus orang yang betul-betul mempunyai klasifikasi superhebat,” kata Ridwan, Rabu (12/7).
Dua menyebutkan beberapa sosok seperti Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan, Menko PMK Muhadjir Effendy, hingga Menko Polhukam Mahfud MD. Namun, di antara nama itu, hanya Luhut yang merupakan kader Golkar.
“Orang yang duduk di pemerintahan, superhebat, siapa yang selevel oleh Pak Airlangga, ya Opung Luhut Binsar Pandjaitan,” kata Ridwan.
Ridwan juga menyebut sejumlah nama lainnya seperti Menteri Investasi Bahlil Lahadalia, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang, dan Ketua MPR Bambang Soesatyo alias Bamsoet.
Selain Ridwan Hisjam, sejumlah politisi Golkar yang mendorong Munaslub antara lain Lawrence TP Siburian, Zainal Bintang, dan sekitar 10 kader Golkar lainnya.
Lawrence mengatakan, pihaknya mendorong adanya munaslub karena tidak jelasnya arah Golkar jelang gelaran Pemilu 2024.
Seperti diketahui, Golkar merupakan partai “juara kedua” di bawah PDIP merujuk hasil Pemilu 2019, yang menempatkan 85 kadernya di DPR RI. Di bawah Golkar, ada Partai Gerindra dengan 78 kursi dan Partai Nasdem dengan 59 kursi. Namun, meski partai tiga besar, soal pencapresan itu Golkar terbilang kurang dinamis dibandingkan partai lainnya.
Jauh-jauh hari Golkar memang sudah menggalang kerja sama dengan PPP dan PAN. Mereka mengusung Koalisi Indonesia Bersatu (KIB). Namun, ternyata PPP telah bergabung dengan PDIP yang mengusung Ganjar Pranowo sebagai capres. Begitu juga PAN, yang diprediksi menjatuhkan pilihan ke Ganjar atau Prabowo Subianto.
Elektabilitas Turun
Sejumlah hasil survei memperlihatkan elektabilitaas Golkar cenderung turun. Hasil survei Litbang Kompas pada 29-10 Mei 2023 misalnya, Golkar menempati urutan keempat dengan elektabilitas 7,3%, tertinggal jauh dari PDIP yang meraih 23,3%, Gerindra 18,6%, dan Demokrat 8%.
Hasil survei Lembaga Survei Indonesia (LSI) juga menunjukkan Golkar berada di urutan ke-4 dengan raihan 6%, jauh tertinggal dari PDIP yang mendapatkan 23,7%, Gerindra 14,2%, dan PKS 6,2%.
Baca juga: Giliran Budiman Sujatmiko Bertemu Prabowo, Ada Apa dengan PDIP?
Di sisi lain, elektabilitas Airlangga Hartarto sebagai kandidat capres-cawapres juga rendah. Berdasarkan survei LSI, pada simulasi 19 nama capres, elektabilitas Airlangga hanya 0,5%. Sementara dalam daftar 24 nama cawapres, Airlangga hanya meraih 2,6% dan 3,8% pada simulasi 12 nama.
Dengan demikian, kegelisahan dan keresahan yang diekspresikan sejumlah politisi senior Golkar dengan mewacanakan munaslub seperti menemukan alasan pembenar yang masuk akal dan realistis.

