JAKARTA (Sketsa.co) — Politikus PDIP Budiman Sudjatmiko menilai Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto merupakan figur yang tepat untuk mempersatukan kelompok nasionalis.
“Kita berbicara soal harus ada persatuan kaum nasionalis, harus ada persatuan kaum nasionalis, itu saja. Jangan berkelahi begitu loh,” ujar Budiman kepada pers usai menemui Prabowo di Jalan Kertanegara, Jakarta Selatan, Selasa (18/7) malam.
Mengklaim mewakili pribadi untuk berdiskusi dengan tokoh bangsa, Budiman mengungkapkan bahwa pentingnya persatuan kaum nasional menjadi faktor yang mendorong dirinya menemui Prabowo.
Mantan aktivis Partai Rakyat Demokratik itu tidak menjawab dengan lugas apakah pertemuannya dengan Prabowo merupakan bagian dari upaya untuk mendorong agar berpasangan dengan capres PDIP Ganjar Pranowo pada pilpres mendatang.
“Apa pun itu end product-nya, terserah nanti pembicaraanya. Tapi, harus ada pencairan. Cairnya (hubungan di antara kelompok nasionalis) dulu,” paparnya.
Terbaik
Budiman juga menilai Prabowo merupakan salah satu sosok terbaik di negeri ini. “Saya berharap, Pak Prabowo sehat, teruskan tugas, tunaikan tugas dan saya ingin orang Indonesia layak untuk mendapatkan orang terbaik, salah satunya Pak Prabowo,” katanya.
Seperti diketahui, sejak PDIP mendeklarasikan Ganjar menjadi bakal capres pada 21 April lalu, peluang untuk menduetkannya dengan Prabowo tampak melemah. Pasalnya Prabowo telah menyatakan tak bersedia menjadi bakal cawapres.
Meski mewakili pribadi, namun Budiman mengaku akan melaporkan hasil pertemuannya dengan Prabowo kepada Ketua DPP PDIP Puan Maharani dan Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto.
Akankah Budiman juga bakal dipanggil Dewan Kehormatan PDIP layaknya Effendi Simbolon, anggota Komisi I DPR dari Fraksi PDIP, karena memberikan sinyal dukungan kepada Prabowo Subianto dalam Pilpres 2024?
Effendi menyampaikan sinyal dukungan tersebut saat mengundang Prabowo dalam acara Rakernas Marga Simbolon di Hotel Aryaduta Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (7/7).
Baca juga: Menakar Peluang Pertemuan Anies-Jokowi Jelang Pilpres
Effendi Simbolon menyatakan keinginannya agar Indonesia dipimpin seorang pemimpin yang handal. Menurutnya, Prabowo Subianto memenuhi kriteria tersebut. Effendi berpendapat bahwa Indonesia memerlukan seorang presiden yang mampu bersaing di tingkat internasional dan membangun harmoni dari Aceh hingga Papua.
“Pribadi saya, dengan jujur, berharap bahwa Indonesia akan dipimpin oleh seorang pemimpin yang memiliki kehandalan. Secara objektif, saya melihat bahwa figur tersebut ada pada Pak Prabowo,” kata Effendi.
Pertanyaannya, adakah manuver Budiman Sujatmiko yang mirip-mirip dengan apa yang dilakukan Effendi Simbolon tersebut bagian dari upaya sistematis faksi di internal PDIP yang tidak nyaman dengan pencapresan Ganjar Pranowo?
Di tengah ketidakpastian rencana pertemuan Prabowo dengan Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri, manuver seperti yang dilakukan Budiman Sujatmiko tentu menimbulkan tanda tanya tersendiri. Bukankah elite PDIP kerap melontarkan diksi “tegak lurus” kepada keputusan partai, yang menggambarkan bahwa semua kader patuh terhadap kebijakan dan keputusan partai, termasuk dalam hal pencapresan?

