JAKARTA (Sketsa.co) — PDI Perjuangan diprediksi tetap akan meraih suara terbanyak dalam Pemilu Legislatif 2024 disusul Partai Gerindra di peringkat kedua. Demikian yang tercermin dari sejumlah hasil survei elektabilitas partai politik dalam beberapa waktu terakhir.
Hasil survei mutakhir Lembaga Survei Indonesia (LSI) misalnya, menyebutkan PDIP unggul jauh dibanding partai lain dengan raihan 23,7% suara. Di peringkat kedua ditempati Gerindra yang meraup 14,2%, lalu disusul PKS di peringkat ketiga dengan raihan 6,2%.
Sementara itu, Golkar meraih 6,0%, PKB 5,7%, Nasdem 5,5%, Demokrat 4,4%, Perindo 4,1%, dan partai lainnya di bawah 3%, antara lain PPP 2,5%, PAN 2,5%, PSI 0,9% serta tidak tahu/tidak menjawab (TT/TJ) 21,9%.
Menurut Direktur Eksekutif LSI Djayadi Hanan, belum banyak yang berubah terkait dengan responden memilih partai politik. PDIP masih unggul diikuti Partai Gerindra.
“Yang bersaing ketat itu PKS, Golkar, PKB, Nasdem, Demokrat, dan Perindo,” ujarnya dalam rilis hasil survei LSI, Selasa (11/7).
Djayadi menjelaskan sebagian responden masih belum menentukan memilih partai apa. “Tapi secara umum petanya belum berubah banyak.”
Tak Mengagetkan
Tak ada yang mengagetkan dengan hasil survei LSI yang menyebutkan PDIP akan memperoleh suara terbanyak di antara partai peserta Pemiliu 2024 lainnya. Begitu pun dengan tampilnya Gerindra di posisi kedua.
Di sisi lain, kedua partai tersebut juga tampak percaya diri menyongsong pilpres mendatang yang digelar serentak dengan pemilu legislatif. PDIP telah resmi mendeklarasikan bakal capres Ganjar Pranowo, sementara Gerindra telah mencalonkan kembali untuk kali ketiga Prabowo Subianto sebagai kandidat presiden.
Tampaknya baik PDIP maupun Gerindra tak akan menggeser posisinya dalam mencapreskan masing-masing kandidatnya. Alhasil, peluang keduanya menjalin kerjasama dalam bentuk koalisi mengusung satu pasangan capres-cawapres agaknya kecil kemungkinan terealisasi.
Baca juga: Kala Duet Ganjar-Erick Alami Tren Kenaikan Elektabilitas
Kalau Pilpres 2024 diikuti tiga pasangan capres-cawapres, maka yang tersisa dari peluang kerjasama PDIP dan Gerindra adalah kalau hanya salah satu dari kandidat capres dua partai itu yang masuk ke putaran kedua. Ini akan membuka peluang yang tersingkir mendukung yang maju ke putaran final.
Sebaliknya, jika putaran kedua pilpres justru menghadapkan Ganjar dan Prabowo, maka peluang kerjasama yang tersisa adalah pascapilpres, yakni pembentukan kabinet. Entah Ganjar atau Prabowo yang memenangkan kontestasi dan punya mandat membentuk kabinet sebagai presiden, maka yang kalah bisa diakomodasi di kabinet.
Ini bisa mengulang cerita tatkala Presiden Jokowi mengajak Prabowo masuk kabinet sebagai Menteri Pertahanan…

