JAKARTA (Sketsa.co) — Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar menjadi kandidat baru calon wakil presiden (cawapres) yang akan mendampingi Ganjar Pranowo pada Pilpres 2024.
Bagaimana peluangnya, dan apa dampaknya terhadap konstelasi pilpres mendatang seandainya Nasaruddin Umar benar menjadi cawapres pendamping capres Ganjar Pranowo?
Ketua Majelis Pertimbangan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) M. Romahurmuziy alias Rommy menyatakan pihaknya telah melakukan pendekatan kepada Nasaruddin dalam beberapa waktu terakhir.
“Kyai Nasaruddin Umar adalah salah satu tokoh bangsa yang sedang kami pertimbangkan untuk menjadi cawapres Mas Ganjar,” ungkap Rommy dalam keterangan tertulis, Selasa (16/5).
Rommy menyebut Nasaruddin pantas menjadi cawapres Ganjar karena diterima berbagai kalangan, serta menganut paham keagamaan yang moderat.
Selain itu, Nasaruddin saat ini menjabat sebagai petinggi di Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Pun kehadiran pria asal Sulawesi Selatan itu dianggap mewakili masyarakat di luar Pulau Jawa.
Nasaruddin sendiri mengaku belum mengetahui tentang usulan yang menyebutkan namanya sebagai bakal cawapres pendamping Ganjar. Dia mengatakan tidak pernah memiliki rencana untuk menduduki jabatan nomor dua di negara ini.
“Saya belum mendapatkan informasi tersebut. Saya tidak pernah bermimpi seperti itu [menjadi cawapres]. Saya hanya berbuat untuk umat dan bangsa, tanpa memiliki target apapun,” ucap Nasaruddin seperti dikutip CNNIndonesia.com.
Tiru Jokowi-Ma’ruf
Masuknya Nasaruddin Umar dalam bursa bakal cawapres pendamping Ganjar Pranowo sekonyong-konyong mengingatkan pada langkah koalisi partai yang menetapkan Ma’ruf Amin sebagai cawapres bagi Jokowi pada Pilpres 2019.
Kyai Ma’ruf Amin adalah tokoh senior di NU. Mantan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat itu pernah menjabat sebagai Rais Aam PBNU.
Dan faktanya, dengan menjadikan Ma’ruf Amin cawapres bagi Jokowi, pasangan ini memenangkan kontestasi Pilpres 2019.
Tampaknya kisah sukses itu menjadi referensi bagi PDIP dan PPP — dua partai yang sejauh ini telah menyatakan secara resmi mengusung pencapresan Ganjar— untuk kemungkinan menduetkan Nasaruddin Umar dengan sosok yang kini menjabat Gubernur Jawa Tengah tersebut.
Baca juga: Mengapa Sosok NU Paling Diperebutkan Jadi Cawapres?
Jika alasannya untuk memberi “warna lebih hijau” (bernuansa Islam) pada pasangan calon yang bakal diusung PDIP dan PPP, strategi itu niscaya masuk akal, realistis dan memenuhi kebutuhan elektoral.
Sebagai Imam Masjid istiqlal, Nasaruddin sangat dihormati dan disegani banyak kalangan, termasuk komunitas Islam yang “berseberangan” atau “tidak nyaman” dengan PDIP dan atau Ganjar Pranowo.
Karena itu, menggandengnya sebagai cawapres Ganjar berpotensi memberikan efek “menetralisir” ketidaknyamanan sebagian kelompok tersebut. Di sisi lain, Nasaruddin sekaligus merepresentasikan basis konstituen besar kaum nahdliyin yang bernaung di bawah NU…

