JAKARTA (Sketsa.co) — Sudah bukan rahasia lagi bahwa Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh dan Menko Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan punya kedekatan khusus.
Dalam enam bulan terakhir, kedua sosok ini terlihat sudah bertemu empat kali. Setelah sempat bersua di London pada Desember 2022, Surya Paloh dan Luhut kembali bertemu pada pertengahan Februari 2023 di Jakarta.
Setelah itu, pada pertengahan Maret lalu, Surya Paloh bertemu Luhut lagi dalam makan siang bersama di Nasdem Tower, Jakarta. Dan paling anyar, Surya Paloh dan Luhut kembali bertemu di sebuah restoran di Wisma Nusantara, kawasan Thamrin, Jakarta, Jumat (5/5).
Pertemuan di Wisma Nusantara tersebut memunculkan berbagai spekulasi di tengah fakta bahwa pada pertemuan para ketum partai pro-pemerintah dengan Presiden Jokowi di Istana Merdeka, Selasa, (2/5), Ketum Nasdem Surya Paloh tidak diundang.
Dipercaya Jokowi
Selama ini publik mengetahui bahwa Luhut Binsar Pandjaitan (LBP) adalah salah satu menteri yang paling dipercaya dan paling sering mendapatkan penugasan khusus dari Presiden Jokowi, terutama jika dirasakan ada persoalan yang membutuhkan penanganan spesial.
Kedekatan LBP dengan Jokowi terjalin sejak lama, jauh sebelum mantan Walikota Solo itu terpilih menjadi presiden pada Pilpres 2014. Tak ayal lagi, LBP selalu ikut dalam gerbong pemerintahan Jokowi, dari mulai jabatan Kepala Staf Presiden, Menko Polhukam, hingga kini Menko Maritim dan Investasi.
Loyalitas LBP kepada Presiden Jokowi tak perlu diragukan lagi. Boleh dikatakan, purnawirawan jenderal Kopassus TNI AD itu nyaris selalu siap menjadi “tameng” bagi Jokowi dalam menghadapi aneka tekanan politik dari berbagai pihak. Keberanian dan ketegasannya tak diragukan lagi dalam “membela Presiden Jokowi.
Padahal, LBP itu berbeda asal-usul partai dengan Jokowi. LBP adalah kader partai “beringin”, sedangkan Jokowi kader partai “banteng”. LBP saat ini memiliki kedudukan penting di partainya, yakni Ketua Dewan Penasihat Partai Golkar.
Sebagai politisi Golkar, wajar kalau LBP punya kedekatan dengan Surya Paloh. Betapa tidak? Jauh sebelum Paloh mendirikan Partai Nasdem, dia adalah kader senior Golkar, dan pernah menjabat Ketua Dewan Penasihat Golkar saat partai ini dipimpin Jusuf Kalla yang menggantikan Akbar Tandjung pada 2004.
Baca juga: De Facto Nasdem “Dianggap” Keluar dari Koalisi Pro-Jokowi
Dengan kapasitas dan atribusi yang begitu lengkap, LBP agaknya telah menjadi jembatan penghubung antara Presiden Jokowi dengan Surya Paloh, terutama di saat-saat menjelang hajatan Pemilu 2024 di mana Surya Paloh mengambil langkah berbeda dengan mayoritas partai pendukung Jokowi lainnya, terutama PDI Perjuangan.
Tampaknya, baik Jokowi maupun Surya Paloh sama-sama tak menghendaki bahwa pilihan langkah politik yang berbeda dalam menyongsong Pemilu 2024, terutama terkait dengan kontestasi pilpres, membuat hubungan baik yang pernah terbina sejak 2014 harus kandas atau berakhir tidak baik.
Dan LBP agaknya telah memainkan peran terbaiknya untuk menjaga kestabilan relasi Jokowi-Surya Paloh…

