JAKARTA (Sketsa.co) — Riak-riak penentuan bakal calon presiden-calon wakil presiden kumpulan partai yang akan membentuk koalisi besar sudah mulai muncul ke permukaan.
Setelah PDIP mensyaratkan jatah capres untuk bersedia gabung bersama koalisi besar, kini giliran Partai Golkar yang menyatakan kalau PDIP ngotot dengan syarat tersebut, sebaiknya tak usah gabung koalisi besar.
Sebelumnya, politisi PDIP Budiman Sujatmiko menegaskan partainya siap gabung koalisi besar dengan syarat partainya mendapat jatah capres.
Kini giliran Wakil Ketua Umum Golkar Nurdin Halid mengisyaratkan partainya akan menolak PDIP masuk koalisi besar jika tetap ngotot minta jatah capres.
“Kalau itu (ngotot capresnya kader PDIP) jangan masuk ke sini (koalisi besar),” kata Nurdin seperti dikutip CNNIndonesia TV, Senin (10/4).
Sementara itu, Ketua umum PKB Muhaimin Iskandar alias Cak Imin menepis anggapan bahwa dirinya sudah legowo apabila gagal diusung menjadi cawapres untuk mendampingi Prabowo di Pilpres 2024.
“Siapa bilang, hahahaha. Siapa bilang…,jangan ngarang ya,” kata Cak Imin usai bertemu Prabowo di kediaman Jl. Kertanegara, Jakarta, Senin (10/4).
Sebelumnya muncul wacana Prabowo dijodohkan dengan Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto sebagai capres-cawapres apabila rencana pembentukan koalisi besar terwujud.
Sudah Diduga
Sebenarnya, sejak awal sudah diduga banyak pihak bahwa pembentukan koalisi besar partai pro pemerintahan Jokowi—minus Nasdem—tak akan mudah terealisasi.
Pasalnya, ada benturan kepentingaan terkait dengan siapa yang akan diusung sebagai kandidat capres-cawapres.
PDIP, misalnya. Ketum Megawati Soekarnoputri dalam pidato HUT ke-50 PDIP menegaskan bahwa partainya akan mengusung kader PDIP sebagai kandidat presiden.
Di sisi lain, Partai Gerindra juga telah memastikan bakal mengusung Ketum Gerindra Prabowo Subianto sebagai capres. Bahkan, sebelum muncul wacana koalisi besar, Gerindra telah berkoalisi dengan PKB membentuk Koalisi Kebangkitan Indonesia Raya (KKIR).
Baca juga: Elektabilitas Salip Ganjar, Kans Prabowo Dicapreskan Koalisi Besar Menguat
Sementara Cak Imin sendiri digadang-gadang bakal menjadi cawapres seandainya KKIR akhirnya mengusung Prabowo sebagai capres, apalagi dalam kesepakatan koalisi disebutkan penentuan capres-cawapres KKIR ditentukan oleh Prabowo dan Cak Imin.
Jika masing-masing pihak tidak bisa menegosiasikan aspirasi dan ekspektasinya tentang capres-cawapres, kemungkinan rencana pembentukan koalisi besar akan buyar.
Seperti diketahui, sejak pertemuan lima pimpinan partai pro Jokowi di Kantor DPP PAN, Jakarta, beberapa waktu lalu, muncul rencana pembentukan koalisi besar untuk menghadapi Pilpres 2024.
Dalam pertemuan yang juga dihadiri Presiden Jokowi itu, lima pimpinan partai (Golkar, PPP, PAN, Gerindra dan PKB) tersebut membicarakan soal pembentukan koalisi besar untuk melanjutkan program-program pemerintahan Jokowi.

