JAKARTA (Sketsa.co) — Bakal calon presiden Anies Baswedan menemui mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siradj di Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah di Jagakarsa, Jakarta Selatan, pada Selasa, 21 Maret 2023. Said Aqil merupakan pemilik sekaligus pimpinan ponpes tersebut.
Tidak sendirian saat sowan, Anies ditemani dua petinggi Partai Nasdem, yakni Wakil Ketua Umum Ahmad Ali dan Ketua Teritorial Pemenangan Pemilu Effendy Choirie (Gus Choi). Yang terakhir ini dikenal bekas politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), partai berbasis konstituen kalangan nahdliyin.
Meski Ahmad Ali mengatakan tidak ada maksud meminta dukungan pada Pilpres 2024, namun dalam konteks dinamika pencapresan belakangan ini, pertemuan atau silaturahmi antarelite tak bisa lepas dari penafsiran politik. Bagaimana pun Saiq Aqil itu tokoh penting di komunitas nahdliyin, kelompok Islam tradisional yang populasinya mencapai kurang lebih 45 juta jiwa.
Meski tak lagi menjabat Ketum PBNU, ormas Islam yang menjadi payung kaum nahdliyin, tapi ketokohan Said Aqil jelas masih memiliki pengaruh signifikan di jejaring para kyai, ulama, santri dan warga NU.
Langkah Anies melakukan anjangsana dan minta nasihat atau masukan Said Aqil tentu saja mesti dibaca dalam konteks dinamika politik pencapresan.
Pengaruh Nahdliyin
Tak diragukan lagi, pengaruh elektoral kaum nahdliyin dalam pilpres langsung sangatlah siginifikan. Itu sekaligus menjelaskan mengapa setiap menjelang hajatan pemilu, terutama pilpres, banyak politisi berusaha mendekati kaum nahdliyin dan NU.
Baca juga: Pentingnya Menggandeng Sosok NU untuk Memenangkan Pilpres
Kaum nahdliyin atau komunitas NU memang tampak lebih low profile dibandingkan komunitas Islam lainnya. Namun, banyak pihak sepakat bahwa siapapun yang bisa merangkul dan pada akhirnya mendapatkan sokongan suara dari kaum nahdliyin, berpeluang besar memenangkan kontestasi pilpres.
Nasdem sebagai partai paling awal yang mendeklarasikan pencapresan Anies bahkan sampai mengusulkan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa sebagai bakal cawapres pendamping mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut.
Wakil Sekjen Partai Nasdem Hermawi Taslim mengakui bahwa faktor latar belakang Khofifah sebagai tokoh NU merupakan salah satu pertimbangan penting, selain alasan gender.
Khofifah memang dikenal sebagai salah satu sosok perempuan politisi yang berakar dari kalangan nahdliyin. Fakta bahwa elektabilitas Anies di Jawa Tengah dan Jatim relatif kecil menjadi salah satu alasan utama untuk mencari sosok yang bisa menutupi kelemahan itu.

