JAKARTA (Sketsa.co) — Tak ayal lagi, pentingnya menggandeng sosok bakal cawapres dari kalangan NU untuk memenangkan pilpres langsung telah diakui banyak pihak.
Wakil Sekjen Partai Nasdem Hermawi Taslim misalnya, mengakui bahwa faktor latar belakang Khofifah sebagai tokoh Nahdlatul Ulama (NU) merupakan salah satu pertimbangan penting, selain alasan gender.
Iya, Khofifah memang dikenal sebagai salah satu sosok perempuan politisi yang berakar dari kalangan nahdliyin—sebutan untuk kelompok Islam tradisional yang jumlahnya demikian besar di Tanah Air, terkhusus di Provinsi Jawa Timur.
Kaum nahdliyin secara organisatoris bernaung di bawah ormas Islam terbesar di negeri ini, yakni NU. Dan NU, secara politik, tak bisa dinafikan begitu saja dalam proses pemilu, terutama pada pilpres.
Dua kali Jokowi terpilih sebagai presiden (2014-2019), keduanya menggandeng sosok berlatar belakang NU, yakni Jusuf Kalla dan kyai Maruf Amin. Bahkan, Maruf Amin adalah seorang tokoh penting di NU sekaligus cucu ulama besar kharismatik asal Banten, Syekh Nawawi Al Bantani.
Jangan lupa, Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur) adalah seorang mantan Ketua Umum Pengurus Besar NU sekaligus cucu pendiri ormas tersebut, yakni KH Haysim Asyari.
Pengaruh Elektoral
Tak diragukan lagi, pengaruh elektoral kaum nahdliyin dalam pilpres langsung sangatlah siginifikan. Itu sekaligus menjelaskan mengapa setiap menjelang hajatan pemilu, terutama pilpres, banyak politisi berusaha mendekati kaum nahdliyin dan NU.
Tak hanya itu, tak jarang sosok yang awalnya sama sekali tak terlihat sebagai bagian dari komunitas NU, sekonyong-konyong ingin tampil dengan “kemasan” nahdliyin, misalnya bergabung dengan organisasi yang menjadi bagian dari ormas besar NU.
Menteri BUMN Erick Thohir, contohnya. Sebelum, jadi menteri, Erick dikenal sebagai pengusaha muda sukses putra Teddy Thohir, salah satu pendiri Grup Astra. Belakangan, mungkin atas pertimbangan sosial dan politik tertentu, Erick menjadi warga kehormatan Barisan Ansor Serbaguna (Banser). Banser merupakan organisasi semi-otonom Gerakan Pemuda Ansor, organisasi pemuda NU yang berdiri pada 1930.
Baca juga: Antara Khofifah dan AHY, Siapa Paling Berpeluang?
Kaum nahdliyin atau komunitas NU memang tampak lebih low profile dibandingkan komunitas Islam lainnya. Namun, banyak pihak sepakat bahwa siapapun yang bisa merangkul dan pada akhirnya mendapatkan sokongan suara dari kaum nahdliyin, berpeluang besar memenangkan kontestasi pilpres.
Nasdem tentu punya pertimbangan dan perhitungan matang dengan mengusulkan agar Anies menggandeng Khofifah sebagai bakal cawapres untuk berlaga di Pilpres 2024. Fakta bahwa elektabilitas mantan Gubernur DKI Jakarta itu relatif kecil di Jawa Tengah dan Jatim menjadi salah satu alasan utama untuk mencari sosok yang bisa menutupi kelemahan itu.
Agaknya bakal capres lain beserta koalisi partai pengusungnya juga akan mempertimbangkan faktor sosok NU sebagai bakal cawapres. Pada titik ini, sosok seperti Ketum PKB Muhaimin Iskandar jelas menjadi penting diperhitungkan kansnya.

