JAKARTA (Sketsa.co) — Pidato politik Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) di hadapan ribuan kader partai tersebut di Tennis Indoor Senayan, Jakarta, Selasa (14/3) begitu lugas melancarkan kritik dan serangan terhadap pemerintahan Presiden Jokowi.
Mulai dari soal utang luar negeri pemerintah yang naik tiga kali lipat selama delapan tahun terakhir, soal Perppu Cipta Kerja hingga wacana penundaan pemilu, AHY tanpa ragu-ragu menampilkan diri sebagai pimpinan partai yang tegas berada di luar pemerintahan saat ini.
AHY seperti hendak menegaskan bahwa beginilah sikap sebagai partai oposisi yang benar, yakni tak segan melakukan kritik dan serangan terhadap pemerintahan yang sedang berjalan.
Pidato politik AHY tersebut menjadi menarik jika dikaitkan dengan keberadan Demokrat dalam kerjasama politik dengan Partai Nasdem dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dengan membentuk Koalisi Perubahan menghadapi pilpres mendatang.
Baca juga: Tak Kunjung Punya Figur “Menjual”, KIB Berpotensi Bubar Jalan…
Betapa tidak? Kecuali Nasdem, baik Demokrat maupun PKS memang berada di luar pemerintahan. Pada titik ini, wajar jika Demokrat dan atau PKS mengambil sikap kritis dan berseberangan dengan pemerintah.
Namun, bagi Nasdem yang masih berada dalam koalisi partai pendukung pemerintahan Jokowi, tentu tak mudah menyuarakan sikap kritis, apalagi melancarkan serangan seperti yang dilakukan AHY.
Dua Target
Agaknya AHY membidik dua target sekaligus dari momen pidato politiknya di Tennis Indoor Senayan, Selasa lalu. Pertama, dengan pidato yang terang-terangan mengkritisi berbagai isu terkait dengan penyelanggaraan pemerintahan, Demokrat ingin meraih apresiasi publik seluas-luasnya, terutama dari segmen warga yang merasa kecewa atau tidak puas dengan pemerintahan Jokowi.
Kedua, AHY ingin memberi impresi kepada mitra partai di Kolaisi Perubahan bahwa dirinya memang patut dan layak untuk menjadi bakal cawapres pendamping bakal capres Anies baswedan. Bukankah koalisi partai yang menyuarakan perubahan dan perbaikan harus mampu mengidentifikasi dan mengkritisi persoalan?
AHY seperti hendak memberi kesan bahwa dirinya bukan saja memiliki kapasitas untuk menyuarakan perubahan dan mendorong perbaikan, tapi juga memiliki alasan moral yang kuat untuk menjadi bagian yang aktif melakukan perubahan dan perbaikan itu sendiri.
Pidato AHY tampaknya akan menjadi faktor penting yang dipertimbangkan secara serius oleh Nasdem, PKS dan juga Anies Baswedan sendiri dalam pembahasan dan penentuan nama bakal cawapres Koalisi Perubahan.
Harus diakui, melalui pidatonya tersebut, AHY cukup berhasil menaikkan posisi tawar politiknya di hadapan Nasdem, PKS dan Anies sendiri…

