JAKARTA (Sketsa.co) — Sekali lagi, meski menjadi yang paling awal mendeklarasikan terbentuknya kerjasama politik menghadapi Pilpres 2024, hingga kini Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) nyaris tak memperlihatkan dinamika berarti.
Kolisi yang beranggotakan Partai Golkar, Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Partai Amanat Nasional (PAN) itu belum juga menyepakati nama bakal capres-cawapres yang akan diusung.
Kesan bahwa ketiga partai berjalan sendiri-sendiri tak bisa dihindarkan. PAN misalnya, beberapa waktu lalu mengisyaratkan bakal mendukung Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan Menteri BUMN Erick Thohir sebagai capres-cawapres.
Sementara PPP ingin mendorong Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Sandiaga Uno sebagai capres, meski tetap memberi isyarat terbuka untuk mendukung pencapresan Ganjar Pranowo.
Sedangkan Golkar sejauh ini tetap bersikeras mengusung sang ketum Airlangga Hartarto sebagai bakal capres dengan alasan hal itu merupakan mandat dari Musyawarah Nasional (Munas) Golkar 2019.
Baca juga: Panen Padi Berujung Skenario Duet Ganjar-Prabowo atau Prabowo-Ganjar?
Padahal, sesungguhnya, KIB telah memenuhi syarat ambang batas pencalonan presiden atau presidential threshold sesuai aturan Pasal 222 UU Pemilu Nomor 7 Tahun 2017.
Terpenuhinya syarat ketiga partai itu untuk mengusung capres merujuk perolehan kursi DPR RI pada Pemilu 2019. Jika ditotal, gabungan perolehan kursi DPR dari Golkar, PAN, dan PPP mencapai 23,67% atau lebih 3% dari ambang batas minimal 20%.
Tak Populer
Inilah masalah utama KIB, yakni tak punya figur populer atau “menjual”. Baik dari Golkar, PPP maupun PAN, nyaris tak ada sosok yang memiliki popularitas dan elektabilitas tinggi.
Airlangga misalnya, tak cukup memiliki elektabilitas yang signifikan, sehingga susah bagi Golkar untuk meyakinkan PPP dan PAN guna menyepakati mengusungnya sebagai bakal capres KIB. Begitu pun PPP dan PAN. Nyaris tak ada kader internal dua partai ini yang juga “layak” ditawarkan menjadi bakal capres KIB.
Alhasil, yang paling realistis adalah KIB merapat, bergabung atau melebur dengan partai atau koalisi lain yang memiliki kandidat capres dengan elektabilitas tinggi. Pilihannya, bergabung dengan Koalisi Perubahan yang mengusung Anies Baswedan sebagai capres, Koalisi Kebangkitan Indonesia Raya yang mengusung Prabowo atau bersama PDIP mengusung kader internal partai banteng moncong putih tersebut.
Pilihan lainnya, KIB membubarkan diri dan ketiga anggotanya jalan sendiri-sendiri mencari peruntungan politiknya dengan melebur ke dalam koalisi partai yang mengusung capres potensial.

