JAKARTA (Sketsa.co) —Partai Demokrat menolak wacana menduetkan Sandiaga Uno, Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, sebagai bakal calon wakil presiden pendamping bakal capres Anies Baswedan di pilpres mendatang.
“Kalau Pak Sandiaga Uno kan bukan tokoh perubahan, tapi tokoh kolaborator. Jadi agak sulit diterima akal sehat, Pak Sandiaga Uno masuk dalam tokoh perubahan,” kata Andi Arief, Ketua Bappilu DPP Partai Demokrat, dalam rekaman suara yang diterima wartawan, Senin (6/3/2023).
Sebelumnya, Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Ahmad Syaikhu mengatakan pihaknya memang ingin kembali menduetkan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno di Pilpres 2024.
“Ya, kalau nanti ada yang mengusulkan Bang Sandiaga Uno ya kita akan tampung, dan kemudian secara fair nanti kita akan lakukan survei. Nah dari situlah kita akan tetapkan mana yang kira-kira akan bisa menjadi pendamping Pak Anies,” kata Syaikhu kepada pers usai membuka posko pemenangan Anies Baswedan di Cangkringan, Sleman, Minggu (5/3/2023)
Mengapa PKS antusias hendak menyandingkan Sandiaga dengan Anies untuk berlaga di Pilpres 2024? Tentu saja hal itu tak lepas dari pengalaman manis koalisi Gerindra dan PKS saat mengusung duet Anies-Sandiaga di Pilkada DKI Jakarta 2017.
Kala itu, seperti kita tahu, pasangan Anies-Sandi berhasil menumbangkan petahana Gubernur-Wakil Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Syaiful Hidayat yang diusung koalisi PDIP dkk.
Hampir Musykil
Namun, bukankah untuk pilpres mendatang rasanya itu hampir musykil dilakukan mengingat Gerindra sudah memastikan mengusung sang ketua umum, Prabowo Subianto, sebagai kandidat capres?
Harus diakui, sosok Sandiaga Uno memiliki daya tarik tersendiri di kalangan partai politik untuk dimajukan dalam bursa pilpres, entah sebagai bakal capres maupun bakal cawapres.
Selain PKS yang terang-terangan berminat meminang Sandiaga untuk diduetkan lagi dengan Anies di arena pilpres, sebelumnya Partai Persatuan Pembangunan (PPP) juga mengisyaratkan siap mencapreskan Menparekraf tersebut.
Baca juga: Surya Paloh-Prabowo Bertemu, Nasdem-Gerindra Tetap Berbeda Pilihan Politik Hadapi Pilpres
Lalu, apa daya tarik dan daya saing Sandiaga?
Pertama, dalam sejumlah survei elektabilitas capres-cawapres, Sandiaga hampir selalu masuk 10 besar. Meski sejauh ini belum pernah masuk tiga besar tokoh dengan lektabilitas tertinggi sebagai kandidat capres, namun elektabilitas Sandiaga untuk posisi cawapres relatif lumayan.
Kedua, sebagai sosok berlatar belakang pengusaha, Sandiaga terhitung pengusaha sukses dengan harta berlimpah. Tergolong tajir melintir, meminjam istilah anak sekarang.
Siapapun tahu bahwa perhelatan pilpres membutuhkan dana banyak. Dengan kata lain, baik kandidat capres-cawapres maupun partai pengusung membutuhkan logistik tidak sedikit untuk kampanye.
Sandiaga, sebagai pengusaha sukses, tentu memiliki jejaring bisnis yang kuat terkait dengan potensi penggalangan dana kampanye. Kalau dia menjadi bakal cawapres, dengan sendirinya Sandiaga akan memaksimalkan relasi dan jejaringnya untuk menggalang sumbangan dana kampanye.
Bukankah Anies Baswedan sendiri pernah meminjam dana melalui Sandiaga sebagai logistik dana kampanye Pilkada DKI 2017 yang besarannya mencapai Rp 92 miliar?
Yang pasti, meski tiga partai (Nasdem, Demokrat dan PKS) memberi mandat kepada Anies untuk menetapkan nama bakal cawapres yang akan mendampinginya di pilpres mendatang, sejauh ini belum ada sinyal apapun yang mengarah ke sosok tertentu.
Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Sandiaga atau Khofifah Indar Parawansa, cepat atau lambat Anies akan menyebut satu nama…

