Sketsa.co
  • News
  • Ekonomi Bisnis
  • Historia
  • Lowongan Kerja
  • Event
  • Finansial
  • Internasional
  • Obituari
  • Opini
Reading: Mengapa Koalisi Indonesia Bersatu Miskin Dinamika?
Share
Aa
Aa
Sketsa.co
  • Home
  • News
  • Internasional
  • Ekonomi Bisnis
Search
  • Home
    • Home 1
    • Home 2
    • Home 3
    • Home 4
    • Home 5
  • Categories
    • Tech News
  • Bookmarks
  • More Foxiz
    • Sitemap
Follow US
  • Contact
  • Blog
  • Complaint
  • Advertise
© 2023 Raka. All Rights Reserved.
Home » Blog » Mengapa Koalisi Indonesia Bersatu Miskin Dinamika?
Politik

Mengapa Koalisi Indonesia Bersatu Miskin Dinamika?

Masalahnya, modal besar KIB tak dibarengi dengan ketersediaan stok nama menonjol yang punya elektabilitas memadai semacam Ganjar Pranowo, Anies Baswedan atau Prabowo Subianto.

Last updated: Selasa, 31 Januari 2023, 2:57 PM
By Raden Parwoto
Share
4 Min Read
Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto (Foto: partaigolkar.com)
SHARE

JAKARTA (Sketsa.co) — Mengapa Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) tampak miskin dinamika, padahal pembentukannya menjadi yang paling awal diniatkan untuk menyongsong Pilpres 2024?

Sejauh ini, nyaris tak ada dinamika berarti dalam gerak KIB yang beranggotakan Partai Golkar, Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Partai Amanat Nasional (PAN) tersebut.

Sejak diinisiasi pada Agustus 2022 sampai saat ini, tak ada pergerakan berarti terkait dengan nama kandidat capres-cawapres yang akan diusung KIB pada pilpres mendatang.

Memang, Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto merupakan sosok yang paling santer disebut bakal menjadi kandidat capres. Pun KIB mengisyaratkan bakal mengusung dari internal partai koalisi.

Pertanyaannya, benarkah KIB akan mengusung Airlangga atau kader KIB lainnya? Atau, KIB bakal melebur ke koalisi lain, yang sudah lebih dulu memantapkan gerak langkah dalam mengusung bakal capres, misalnya Koalisi Perubahan yang mengusung Anies Baswedan, mantan Gubernur DKI Jakarta?

Atau, jangan-jangan seperti yang dispekulasikan beberapa pihak,  KIB menunggu capres yang akan diusung PDIP. Dengannya, kalau PDIP usung capres Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Tengah yang memiliki elektabilitas tinggi, KIB diprediksi bakal melebur dalam koalisi bersama partai banteng.

Namun, jika PDIP mengusung nama lain, KIB kemungkinan mengusung pasangan capres-cawapres sendiri atau bergabung dengan Koalisi Perubahan mengusung pencapresan Anies.

Atau pilihan lain yang tersisa, bergabung ke dalam koalisi partai Gerindra dan PKB, mengusung Prabowo Subianto sebagai capres.

Sekoci untuk Ganjar?

Spekulasi yang mencuat di awal pembentukan KIB meyebutkan bahwa koalisi ini disiapkan sebagai “sekoci” untuk Ganjar Pranowo kalau pada akhirnya PDIP mengusung nama kandidat capres lain.

Fakta bahwa Golkar, PPP dan PAN adalah bagian dari koalisi pendukung pemerintahan Jokowi-Maruf Amin telah memunculkan spekulasi lanjutan bahwa terbentuknya KIB mendapatkan “restu” dari Presiden Jokowi. Spekulasi ini telah dibantah.

Tak ayal lagi, PPP dan PAN adalah dua anggota KIB yang kerap menyuarakan dukungannya kepada pencapresan Ganjar Pranowo. Bima Arya, Wali Kota Bogor yang juga petinggi di PAN, pada suatu acara di Solo bahkan pernah setengah bercanda “menjodohkan” Ganjar Pranowo dan Ridwan Kamil, Gubernur Jawa Barat, masing-masing sebagai capres dan cawapres.

Belakangan, Ridwan Kamil berlabuh ke Golkar, dan langsung didapuk sebagai salah satu Wakil Ketua Umum yang membidangi penggalangan pemilih dan pemenangan pemilu. Ridwan Kamil adalah salah satu nama yang diperhitungkan sebagai kandidat capres-cawapres potensial dengan elektabilitas cukup tinggi.

KIB sebenarnya memiliki modal besar. Jumlah kumulatif perolehan kursi Golkar, PAN, dan PPP di DPR RI mencapai 26,82%–angka yang lebih dari cukup untuk memenuhi syarat presidential threshold sebesar 20%.

Masalahnya, modal besar itu tak dibarengi dengan ketersediaan stok nama menonjol yang punya elektabilitas memadai semacam Ganjar Pranowo, Anies Baswedan atau Prabowo Subianto.

Fakta itu tampaknya disadari benar oleh Golkar, PPP dan PAN, sehingga merapat dan melebur ke koalisi pengusung salah satu nama kandidat potensial capres tersebut menjadi pilihan paling realistis.

Secara ideologis dan warna kepartaian, Golkar agaknya akan lebih klop jika pada akhirnya bergabung dengan PDIP atau koalisi Gerindra-PKB. Sebaliknya, PPP dan PAN  sebagai dua partai bercorak ke-Islam-an, secara “kimiawi politik” mestinya lebih pas bergabung ke Koalisi Perubahan mengusung capres Anies Baswedan.

 

 

 

 

 

 

 

 

You Might Also Like

Peluang Prabowo di Pilpres 2029 jika Tanpa Gibran Cawapres

Membaca Ketegangan Naratif Kubu Pro Prabowo Vs Kubu Pro Jokowi

Tafsir Atas Teriakan Lantang Jokowi, “Saya Masih Sanggup…”

Isu Ijazah Palsu Jokowi dan Spekulasi Pilpres 2029

TAGGED: Airlangga Hartarto, Ganjar Pranowo, Golkar, Koalisi Indonesia Bersatu, PAN, PPP
Raden Parwoto 31 Januari 2023
Share this Article
Facebook Twitter Copy Link Print
Share
What do you think?
Love0
Sad0
Happy0
Sleepy0
Angry0
Dead0
Wink0
Previous Article Bagaimana Cara Megawati Soekarnoputri Menentukan Nama Capres PDIP?
Next Article Jangan Kaget Skenario Ganjar Nyapres, Gibran Nyagub, Kaesang Nyawalkot…
Leave a comment

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Popular Articles

Latest News

Pindah KTP Antar-Provinsi Sekarang Lebih Gampang
Syarat Pelamar Manajer Kopdes dan Kampung Nelayan Merah Putih
Pemerintah Buka 30.000 Lowongan Manajer Kopdes Merah Putih, Status Pegawai BUMN
Selamat Datang “Ijazah Blockchain”
Apa Kabar Industri Kripto Iran
SuarNews.com
- Advertisement -
Sketsa.co
Follow US

© 2022 Raka Design Company. All Rights Reserved.

  • About Us
  • Contact
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Siber
  • Redaksi

Removed from reading list

Undo
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?