JAKARTA (Sketsa.co) – Ya, bagaimana cara Megawati Soekarnoputri menentukan nama kandidat capres PDIP menjadi salah satu yang paling diperbincangkan di kalangan pendukung partai tersebut.
Betapa tidak? Bahkan sekadar timing atau kapan pastinya PDIP akan mengumumkan jagoannya yang akan bertanding di Pilpres 2024 pun hingga kini belum ada kejelasan.
Tak heran jika warga pendukung PDIP diliputi berbagai spekulasi. Mulai dari nama kandidat capres potensial sampai partai mana saja yang akan berkoalisi dengan PDIP.
Tidak bisa dipungkiri, ada dua nama paling potensial untuk dipilih Megawati sebagai bakal capres PDIP, yaitu Puan Maharani dan Ganjar Pranowo. Keduanya memiliki kelebihan dan kekurangannya dilihat dari berbagai sisi.
Di luar dua nama itu, praktis tak ada nama kader lain yang disebut sebagai kandidat capres potensial. Megawati sendiri pada HUT ke-50 PDIP 10 Januari lalu memastikan bahwa capres yang akan diusung berasal dari kader partai.
Puan Maharani
Tanpa perdebatan lagi, Puan Maharani tentu saja adalah kader papan atas PDIP. Selain fakta bahwa dia anak Megawati, Puan juga menjabat Ketua DPR sekaligus mantan Menteri PMK.
Artinya, dari sudut pandang kelayakan sebagai kandidat capres PDIP, Puan Maharani niscaya memenuhi nyaris semua kualifikasi, kecuali satu hal: yakni elektabilitasnya yang rendah.
Kenyataannya, hasil dari berbagai survei elektabilitas kandidat capres yang dilakukan sejumlah lembaga, memperlihatkan elektabiltas Puan memang kecil.
Masalahnya, PDIP tentu saja berharap mengusung capres yang punya potensi besar untuk menang. Persis pada titik inilah, skenario mencapreskan Puan tampak sebagai sesuatu yang tak realistis.
Ganjar Pranowo
Akan halnya Ganjar Pranowo. Selain Gubernur Jawa Tengah dua periode, dia adalah mantan anggota Fraksi PDIP di DPR RI. Sosoknya sebenarnya relatif biasa saja alias tidak begitu cemerlang.
Namun, kelebihan Ganjar yang diimpikan hampir semua orang yang berhasrat nyapres adalah: elektabilitasnya begitu tinggi. Hasil survei mutakhir yang digelar LSI misalnya, memperlihatkan Ganjar berada di posisi puncak, disusul Anies Baswedan dan Prabowo Subianto di urutan kedua dan ketiga.
Di internal pengurus teras PDIP, Ganjar itu mirip Jokowi ketika hendak maju capres di Pilpres 2014, yaitu cenderung dipandang sebelah mata. Kapasitas personalnya dianggap “biasa-biasa” saja.
Bahkan, sebagian menilai tingginya elektabilitas Ganjar tak lebih dari hasil pencitraan melalui media sosial, bukan cerminan dari prestasi nyata.
Para pengamat politik memprediksi, jika PDIP mengusung Ganjar sebagai capres, bukan saja berpeluang besar memenangkan Pilpres 2024, namun juga berpotensi menaikkan perolehan suara PDIP di pemilu legislatif. Ada coatail effect atau “efek ekor jas” dari moncernya nama Ganjar.
Nah, sebagai penerima mandat partai untuk menentukan nama capres yang akan diusung PDIP di Pilpres 2024, tentu tak mudah bagi Megawati memilih dan menetapkan nama kandidat capres.
Hanya, biasanya, Megawati akan mengajak sosok yang akan diusungnya dalam pilpres untuk berziarah ke makam Bung Karno, mendiang ayahnya sekaligus Proklamator dan Presiden RI pertama, yang berlokasi di Blitar, Jawa Timur….

