JAKARTA (Sketsa.co) – Partai Nasdem keluar dari koalisi partai pendukung pemerintahan Jokowi-Maruf Amin dan memantapkan Koalisi Perubahan mengusung pencapresan Anies Baswedan niscaya jadi langkah elegan.
Dengan kata lain, sesungguhnya tak banyak pilihan bagi Nasdem kecuali memantapkan langkahnya memperteguh pembentukan koalisi bersama Partai Demokrat dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) untuk mengusung Anies Baswedan sebagai bakal capres pada Pilpres 2024.
Membiarkan dua dari tiga menterinya terdepak dari kabinet tampaknya menjadi “harga” wajar yang harus dibayar Nasdem sekaligus memperkuat alasan untuk keluar dari koalisi partai pendukung pemerintahan Jokowi-Maruf Amin secara elegan.
Tekanan bagi Nasdem keluar dari koalisi pendukung Jokowi makin keras saat Partai Demokrat, melalui pernyataan tertulis ketua umumnya, Agus Harimurti Yudhoyono, pada Rabu (25/1/2023) memberikan dukungan resmi atas pencapresan Anies Baswedan. Manuver dadakan Demokrat ini tentu bukan tanpa latar belakang.
Agaknya, keseriusan Demokrat mendukung pencapresan Anies menjadi alasan penguat bagi Ketum Nasdem Surya Paloh untuk bertemu Presiden Jokowi pada Kamis (26/1/2023) sore dan siap menerima kesepakatan politik apapun yang muncul.
Baca juga: Tiga Spekulasi di Balik Pertemuan Surya Paloh-Jokowi di Istana
Dan, tampaknya, pembicaraan empat mata Surya Paloh-Jokowi lebih dari satu jam di Istana itu diduga menghasilkan kesepakatan politik bahwa Nasdem akan berpisah baik-baik dan keluar dari koalisi partai pendukung Jokowi-Maruf Amin.
Dengannya, hal itu sekaligus membukakan pintu lebar-lebar bagi Jokowi untuk melakukan perombakan kabinet dengan mengganti dua menteri asal Nasdem, yakni Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo serta Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar seperti yang didesakkan PDIP melalui salah satu petingginya, Djarot Saiful Hidayat, beberapa waktu lalu.
Muncul pertanyaan, mengapa Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G. Plate tidak ikut didesakkan PDIP agar diganti? Bukankah yang bersangkutan juga kader Nasdem? Ini tentu mengundang spekulasi tersendiri, yang membutuhkan penjelasan lain.
Jalan Terus
Jika gambaran spekulasi di atas benar adanya, dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa rencana pembentukan Koalisi Perubahan dan Perbaikan yang beranggotakan Nasdem, Demokrat dan PKS bakal jalan terus. Pencapresan Anies berlanjut, dan koalisi hanya menyisakan persoalan menyepakati nama kandidat cawapres pendamping Anies.
Kabarnya, nama AHY yang sejak awal diusulkan Demokrat telah disepakati petinggi Nasdem dan PKS. Yang tersisa kini tinggal mencari waktu terbaik untuk mendeklarasikan Koalisi Perubahan sekaligus pengusungan duet bakal capres-cawapres Anies-AHY.
Ini artinya, Nasdem telah mengambil langkah elegan. Tidak bermain dua kaki seperti yang dikesankan sejumlah pihak selama ini. Dengannya, Nasdem dan figur Surya Paloh layak memimpin atau memegang kendali Koalisi Perubahan…

