JAKARTA : Gus Miftah atau Miftah Maulana memutuskan mundur dari posisinya sebagai Utusan Khusus Presiden untuk Kerukunan Beragama setelah pernyataannya mengenai penjual es teh memicu kritik luas. Langkah ini menjadi sorotan publik, mengundang reaksi beragam dari berbagai kalangan.
Sebagai Utusan Khusus Presiden, peran ini memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga kerukunan antarumat beragama. Lembaga yang diemban oleh Gus Miftah bertugas memastikan dialog antaragama berjalan baik, menyelesaikan konflik sektarian, dan mendukung pembangunan sarana keagamaan. Oleh karena itu, penggantinya harus memiliki kemampuan mendalam dalam memahami dinamika sosial dan agama di Indonesia, serta mampu berkomunikasi dengan berbagai pihak. Selain itu, kandidat pengganti juga harus siap menghadapi kritik publik yang kerap muncul dalam posisi strategis seperti ini.
Nama-Nama Kandidat Pengganti Gus Miftah
Setelah pengunduran diri Gus Miftah, sejumlah nama mencuat sebagai kandidat potensial untuk mengisi posisi tersebut. Salah satu nama yang banyak diperbincangkan adalah Ustadz Adi Hidayat, seorang pendakwah muda yang kini menjabat sebagai Wakil Ketua I Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah untuk periode 2022–2027. Ustadz Adi dikenal memiliki pendekatan yang santun dalam berdakwah, sehingga dinilai cocok untuk mengemban tugas menjaga kerukunan beragama.
Selain Ustadz Adi, nama Ghazi Abdullah Muttaqien, seorang intelektual muda dan hafiz Quran, juga muncul sebagai kandidat. Ia dianggap memiliki wawasan agama yang mendalam, yang penting dalam merangkul berbagai lapisan masyarakat. Nama lainnya adalah Dr. Gamal Albinsaid, seorang dokter muda yang juga dikenal aktif dalam isu sosial dan keagamaan, serta Alissa Wahid, putri dari almarhum Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Alissa, yang aktif di berbagai kegiatan sosial dan pluralisme, diyakini dapat melanjutkan semangat ayahnya dalam membangun kerukunan antarumat beragama.
Kandidat Lain
Selain tokoh-tokoh keagamaan, beberapa nama dari kalangan politik dan intelektual juga disebut sebagai kandidat potensial. Rocky Gerung, seorang filsuf dan pengamat politik, dianggap memiliki pendekatan intelektual dan inklusif yang dapat memediasi kerukunan antarumat beragama. Kendati bukan berasal dari latar belakang agama, pandangan kritisnya dinilai bisa menjadi nilai tambah dalam menjalankan tugas ini.
Nama lainnya adalah Irfan Hakim, seorang figur publik yang dikenal luas, serta Yaqut Cholil Qoumas, mantan Menteri Agama di era Jokowi. Yaqut memiliki rekam jejak yang baik dalam merangkul berbagai kalangan, menjadikannya kandidat kuat untuk posisi tersebut. Di sisi lain, nama Ali Mochtar Ngabalin, yang saat ini menjabat sebagai Tenaga Ahli di Kantor Staf Presiden, juga disebut-sebut oleh warganet sebagai sosok yang layak untuk mengisi posisi yang ditinggalkan Gus Miftah.
Tugas Berat Menanti Pengganti
Posisi ini bukanlah peran yang mudah. Kandidat terpilih harus memiliki pemahaman yang mendalam mengenai tantangan sosial dan agama di Indonesia, serta mampu menciptakan harmoni di tengah masyarakat yang majemuk. Dengan berbagai nama yang muncul, keputusan Presiden Prabowo akan sangat menentukan arah kebijakan kerukunan beragama di masa mendatang.
Kita tunggu siapa sosok yang akan terpilih untuk menjalankan tugas strategis ini.

