JAKARTA (Sketsa.co) — Salah satu hal merisaukan di era banjir informasi saat ini adalah banyaknya informasi hoaks, palsu atau bohong yang menyebar demikian cepat melalui berbagai platform media sosial.
Dengan hampir semua orang memegang smartphone (gadget) sekaligus terkoneksi dengan media sosial, yang namanya informasi hoaks, palsu atau bohong itu begitu deras menyerbu ruang kesadaran kognitif setiap orang.
Yang terjadi acapkali si penerima informasi tak punya kesempatan untuk menyaring dan memilah mana informasi yang berdasarkan fakta atau sekadar informasi hoaks, palsu atau bohong.
Menurut Menteri Sains, Teknologi, dan Inovasi Malaysia, Chang Lih Kang, kurangnya pengetahuan dasar tentang prinsip-prinsip ilmiah membuat sebagian orang semakin mungkin mempercayai berita palsu yang sama sekali tidak masuk akal (malaysiakini.com).
“Sejujurnya, saya tidak terkejut ketika begitu banyak orang mulai menyebarkan dan mempercayai berita palsu selama pandemi. Saya pikir itu normal dalam konteks Malaysia karena tidak banyak orang yang benar-benar tertarik dengan sains dan teknologi,” katanya dalam suatu kesempatan.
Alhasil, karena tidak terbiasa berpikir dengan prinsip dasar ilmiah (yakni faktual, empiris dan logis) mereka gampang terpapar dan terpengaruh informasi hoaks, palsu atau bohong.
Berbahaya
Soal berbahayanya jika kita terpapar informasi hoaks, palsu atau bohong, kita sudah sama tahu. Pada intinya, informasi seperti itu menyesatkan. Nah, hal yang menyesatkan biasanya selalu berujung keburukan.
Analoginya sederhana: jika Anda memperoleh informasi ngawur soal alamat seseorang, maka Anda akan tersesat di jalan. Tersesat, apapun alasannya, jelas sesuatu yang merugikan. Rugi tenaga, rugi waktu dan mungkin rugi biaya.
Baca juga: Antara Khofifah dan AHY, Siapa Paling Berpeluang?
Masalahnya, jika informasi hoaks itu bersifat konfliktual, provokasi atau hasutan, hal itu bisa memicu pertentangan sosial, bahkan kerusuhan sosial. Misalnya hoaks yang terkait dengan isu SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), ini sangat berbahaya sekali.
Karena itu, sangatlah penting membiasakan diri untuk melakukan cek dan ricek terhadap informasi, wabilkhusus yang terkait dengan isu-isu SARA yang rawan mengundang konflik dan pertikaian sosial dalam masyarakat majemuk.
Nah, cek dan ricek, mengklarifikasi kebenaran faktual dan empiris suatu informasi, menjadi hal yang sangat penting. Di sisi lain, cek dan ricek atau mengonfirmasi suatu informasi itu membutuhkan pemikiran yang jernih dan logis.
Pendek kata, dengan membiasakan diri berpikir logis dan selalu bersandar pada fakta empiris, maka secara tidak langsung kita telah membentengi diri kita dari bahaya informasi hoaks, palsu atau bohong.
Kesimpulannya: cara berpikir ilmiah adalah senjata pamungkas untuk menangkal hoaks!

