JAKARTA: Media sosial yang dulu menjadi ruang hangat untuk berbagi momen bersama keluarga dan teman, kini berubah menjadi etalase konten massal. Facebook, yang awalnya dibangun untuk menyambung kembali tali silaturahmi dan mempererat hubungan sosial, telah bergeser jauh dari akar sosialnya. Alih-alih melihat unggahan sahabat lama atau komentar dari sepupu, kini pengguna lebih sering disuguhi video promosi, konten viral, dan hasil karya kecerdasan buatan.
CEO Meta, Mark Zuckerberg, bahkan secara terbuka mengakui hal ini. Dalam sidang bersama Federal Trade Commission (FTC), Zuck menyebut bahwa jumlah pengguna yang berbagi unggahan pribadi dengan teman di Facebook terus menurun. “Bahkan jumlah teman baru yang ditambahkan orang-orang saya rasa telah menurun,” ujarnya. Meski ia tidak menyebutkan angka pasti, pernyataannya menggambarkan bahwa era berbagi momen kecil bersama orang terdekat mulai memudar.
Hal ini bukan sekadar kekhawatiran sesaat. Sheryl Sandberg, mantan Chief Operating Officer Meta, juga pernah menyuarakan kekhawatiran serupa. Ia menyebut penurunan aktivitas berbagi dengan teman dan keluarga sebagai tren yang signifikan dan berkelanjutan. “Jika strategi sebuah platform hanya mengandalkan koneksi personal, maka pendapatan akan terdampak serius,” tegasnya.
Fenomena ini tak bisa dilepaskan dari pengaruh besar TikTok. Aplikasi berbasis video pendek itu bukan hanya populer, tetapi juga berhasil mengubah cara orang mengonsumsi konten. Menurut Zuckerberg, media sosial kini lebih berperan sebagai mesin penemuan—tempat pengguna menemukan hal-hal baru, bukan sekadar berinteraksi dengan orang yang sudah mereka kenal. Interaksi pun lebih banyak terjadi dengan para kreator konten daripada teman sendiri.
Meta pun tak tinggal diam. Untuk tetap relevan dan mencegah migrasi massal pengguna, mereka mulai meniru strategi TikTok. Reels diperkenalkan di Instagram dan Facebook, serta fitur belanja ala TikTok Shop pun mulai hadir. “TikTok masih lebih besar dari Facebook dan Instagram, dan saya tidak suka jika pesaing kami lebih baik dari kami,” ujar Zuck, seperti dikutip dari Ars Technica.
Pada akhirnya, transformasi ini bukan sekadar tentang fitur baru, tetapi mencerminkan perubahan mendasar dalam cara manusia menggunakan media sosial. Dari yang semula untuk memperkuat hubungan sosial, kini bergeser menjadi konsumsi konten dalam jumlah besar. Media sosial telah berevolusi menjadi media massa digital, di mana algoritma lebih mengenal kita dibanding teman sendiri.
Pertanyaannya kini: apakah media sosial akan bisa kembali menjadi ruang intim yang sosial? Ataukah kita harus menerima bahwa yang ‘sosial’ tinggal nama, sementara yang tersisa hanyalah panggung bagi para kreator dan mesin algoritma?

