JAKARTA (Sketsa.co): Dunia internasional benar-benar geleng-geleng kepala. Betapa tidak? Ekonomi Iran telah diembargo selama hampir setengah abad oleh AS, tetapi urat nadi ekonomi Iran tetep berdenyut. Tetap hidup, alias tidak mati.
Sejak krisis sandera Iran pada November 1979 hingga sekarang (Maret 2026), ekonomi Iran diembargo AS dari berbagai jurusan. Kalau dihitung, total rentang waktu embargo sekitar 47 tahun, atau nyaris setengah abad.
Tekanan demi tekanan terus dilangsungkan Bahkan semakin ke sini, semakin intensif di bawah kebijakan baru Trump: “tekanan maksimum”.
Awalnya, pada 1970-an, pemerintah AS hanya membekukan aset Iran senilai US$8,1 miliar dan melarang perusahaan AS berdagang dengan seluruh entitas bisnis Iran sebagai respon atas penyanderaan diplomat AS.
Namun 25 tahun kemudian, pada 1995, melalui undang-undang resmi, AS melarang perusahaan Paman Sam berinvestasi di sektor minyak dan gas Iran untuk menghentikan pendanaan program nuklir.
Sebagian sanksi itu sempat dikendorkan pada kurun 2015-2018 setelah AS berhasil meneken kesepakatan nuklir dengan Iran pada 2015. Tetapi tidak lama kemudian, pada 2018, AS menarik diri dari kesepakatan nuklir dan memberlakukan kembali sanksi skala penuh, hingga akhirnya pecah perang dengan Iran pada 28 Februari 2026.
Tidak Ambruk
Pertanyaannya, mengapa ekonomi Iran diblokir hampir selama setengah abad tidak ambruk? Salah satu jawabannya ternyata adalah karena adanya “tali penyelamat” industri kripto.
Sejak 2026, Iran telah menjadikan industri kripto sebagai ekosistem ganda. Di satu sisi dikelola negara untuk memitigasi sanksi AS dan sisi lainnya digunakan oleh warga sipil untuk alat bertahan hidup.
Tak heran nilai ekonomi kripto di Iran lumayan tinggi. Menurut perusahaan analitik blockchain Chainalysis, nilai ekonomi kripto di Iran mencapai sekitar US$7,78 miliar (sekitar Rp 132,6 triliun) pada 2025, tumbuh lebih cepat dibandingkan tahun sebelumnya. Angka tersebut kira kira sebesar PDB dari beberapa negara kecil seperti Maladewa, atau Liechtenstein.
Angkatan bersenjata elit Iran, Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), dilaporkan menguasai lebih dari 50% arus masuk kripto ke Iran pada kuartal keempat 2025.
Sementara Bank Sentral Iran (CBI), menurut laporan analis lain Elliptic, secara strategis menumpuk stablecoin USDT (Tether), dengan akumulasi setidaknya US$507 juta untuk menstabilkan mata uang Rial di pasar gelap, selain untuk membiayai impor, termasuk impor senjata.
Bagi Iran, kripto bukan sekadar aset digital, melainkan instrumen “ekonomi bayangan” yang krusial untuk bertahan di bawah tekanan sanksi global yang berkepanjangan.
Iran memanfaatkan mata uang kripto dan teknologi penambangan kripto sebagai strategi vital untuk menembus blokade ekonomi Barat dan sanksi internasional, selain untuk memfasilitasi transaksi impor dan ekspor di luar sistem SWIFT.
Dengan pasar senilai $7,8 miliar, kripto seperti USDT dan Bitcoin digunakan oleh entitas negara untuk pembayaran dagang, termasuk untuk transaksi senjata seperti rudal, drone, dan kapal perang guna menghindari pengawasan keuangan Barat.
Iran menggunakan kripto (seperti USDT) senilai ratusan juta dolar untuk mengatasi depresiasi Rial dan melakukan pembayaran impor tanpa melalui sistem perbankan konvensional yang diawasi AS.
Saat ini, diperkirakan ada 12 hingga 15 juta orang di Iran menggunakan aset kripto sebagai instrumen lindung nilai (hedging) terhadap inflasi yang mencapai 40%-50% akibat depresiasi nilai Rial.
Bitcoin
Makin hari, uang Rial makin kehilangan nilainya, sehingga masyarakat Iran lebih suka memegang kripto. Mereka cenderung memilih mata uang Bitcoin dibandingkan stablecoin Ramzrial yang dikelola negara.
Seperti diketahui, sejak 2022, otoritas keuangan Iran telah meluncurkan “Proyek CBDC” yaitu meluncurkan mata uang Rial versi digital (atau Ramzrial) untuk meningkatkan kontrol atas arus kas, mengurangi pencucian uang dan melawan inflasi.
Iran sejak 2019 juga secara resmi mengizinkan rakyatnya menambang aset kripto Bitcoin dengan syarat penambang berlisensi harus menjual hasil tambang ke Bank Sentral Iran (CBI) untuk mendanai berbagai keperluan impor.
Dengan biaya listrik yang sangat murah (sekitar setengah sen per kWh) karena minyak bumi yang melimpah, menjadikan biaya produksi satu Bitcoin (BTC) di Iran hanya butuh sekitar USD 1.320/coin, jauh di bawah rata-rata global yang dilaporkan mencapai US$88.000/coin.
Inilah salah satu rahasia yang membuat Iran mampu bertahan dari gempuran ekonomi Amerika dan Uni Eropa.
Nobitex adalah bursa terbesar di Iran (mirip Indodax di Indonesia) menangani sekitar 87% volume transaksi kripto domestik. Di Iran, masyarakat lebih suka menggunakan jaringan blockchain TRON sebagai pilihan utama untuk bertransaksi. Ini karena biayanya yang rendah sementara kecepatannya tinggi, terutama untuk transaksi mata uang USDT (TRC-20).
Anjlok Akibat Perang
Namun sayang, serangan udara pada Februari 2026 yang menyebabkan pemadaman internet di berbagai wilayah di Iran mengakibatkan volume transaksi kripto di negeri para mullah itu anjlok hingga 80%.
Bursa kripto lokal masuk ke mode “pengendalian risiko”, baik dari sisi operasional penambangan maupun arus keluar masuk kripto.
Sektor penambangan Bitcoin di Iran yang mengerahkan tidak kurang dari 700.000 mesin penambang (menyumbang sekitar 2% hingga 5% dari hashrateglobal) seketika ikut kocar kacir karena perang.
Presiden AS Donald Trump sempat menunda serangan khusus ke pembangkit listrik Iran pada Maret 2026, namun industri kripto setempat sudah terlanjur berada dalam selera ketidakpastian sehingga dilaporkan sempat mengganggu sumber devisa Iran.
Dalam hitungan jam setelah serangan pada 28 Februari 2026, arus keluar modal (capital outflow) dari bursa kripto lokal Iran dilaporkan tembus lebih dari US$10,3 juta.
Bursa kripto terbesar Iran, Nobitex, mencatat lonjakan penarikan hingga 800% (sekitar US$2,89 juta dalam satu jam) dibandingkan rata-rata hariannya.
Industri kripto yang selama ini menjadi “tali penyelamat” bagi Iran untuk menghindari sanksi internasional dan membiayai impor, terganggu akibat serangan di pusat komando dan infrastruktur komunikasi negeri itu.
Platform kripto 24/7 yang buka 24 jam selama seminggu, menjadi satu-satunya tempat bagi investor untuk bertransaksi setelah pasar keuangan tradisional Iran tutup akhibat perang. Tetapi karena gangguan internet, harga kripto di Iran menghadapi volatilitas ekstrem.
Bursa internasional seperti Binance bahkan sampai mengurangi eksposur langsung mereka ke bursa Iran hingga lebih dari 97% demi menghindari risiko sanksi lebih lanjut.
Sangat logis jika ketegangan antara Iran dan AS/Israel langsung memicu volatilitas tinggi di pasar kripto lokal bahkan global, karena investor melihatnya sebagai aset pelindung nilai (safe haven) walaupun menyimpan risiko volatilitas.
Data dari Chainalysis menunjukkan bahwa aktivitas kripto di Iran berkorelasi dengan titik-titik politik yang sensitif. Menurut Chainalysis, aliran masuk ke alamat yang terkait dengan IRGC mencapai total $2 miliar pada tahun 2024 dan melebihi $3 miliar pada tahun 2025.
Apakah ke depan Iran masih bisa mengandalkan aset kripto untuk survival? No body knows.
*Penulis adalah jurnalis senior bidang finansial, dan pemerhati aset digital/kripto.

