JAKARTA: Federal Reserve (The Fed) memangkas suku bunga acuan ke kisaran 4,25%-4,5% pada Rabu (18/12/2024) namun mengisyaratkan penurunan lebih terbatas pada 2025. Keputusan ini diumumkan setelah pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC). Ketua The Fed Jerome Powell menyebut kebijakan saat ini lebih longgar, dengan total pemangkasan suku bunga 100 basis poin sepanjang 2024. Powell menegaskan The Fed akan berhati-hati mempertimbangkan langkah lebih lanjut.
Langkah bank sentral AS ini memicu penguatan dolar AS ke level tertinggi sejak 2022, menekan nilai tukar mata uang lain, termasuk rupiah. Berdasarkan data Bloomberg, indeks dolar AS naik 0,9% pada Rabu, mencatatkan lonjakan lebih dari 7% sepanjang 2024. Euro, pound, dan franc Swiss masing-masing melemah 1%, sementara yuan offshore China menyentuh posisi terendah sejak 2023. Para analis menilai penguatan dolar didorong oleh data ekonomi AS yang solid, kebijakan The Fed yang hawkish, serta prospek ekonomi AS yang lebih kuat dibanding negara lain.
Analis Barclays, Skylar Montgomery Koning, menyebut penguatan dolar juga didukung ekspektasi kebijakan moneter ketat serta janji Presiden terpilih Donald Trump terkait tarif perdagangan. Direktur Amundi US Inc, Paresh Upadhyaya, menambahkan sikap hawkish The Fed menjadi faktor utama di balik lonjakan dolar AS, yang terus memperkuat posisi ekonomi AS.
Di sisi lain, mata uang negara berkembang tertekan. Indeks mata uang emerging markets turun 0,4% ke level terendah sejak Agustus. Real Brasil bahkan melemah 3% dalam satu hari akibat kekhawatiran krisis fiskal. Brendan McKenna, analis dari Wells Fargo, memproyeksikan dolar AS akan terus menguat signifikan hingga pertengahan 2025, meskipun diperkirakan mulai melemah pada akhir tahun seiring pemulihan ekonomi global.
Dot plot terbaru The Fed menunjukkan prospek penurunan suku bunga lebih sedikit pada 2025 dibandingkan beberapa bulan lalu. Suku bunga acuan diperkirakan berada di kisaran 3,75%-4% pada akhir tahun, dengan dua kali pemangkasan sebesar 25 basis poin. Beberapa pejabat memperkirakan perlambatan penurunan inflasi sebagai alasan di balik keputusan tersebut.
Keputusan ini juga memengaruhi pasar obligasi dan emas. Imbal hasil obligasi melonjak, sementara harga emas tertekan akibat penguatan dolar AS. Meskipun biasanya suku bunga rendah mendukung harga emas, kondisi saat ini menunjukkan dampak berbeda karena penguatan dolar yang signifikan.
Langkah The Fed ini menegaskan sikap berhati-hati dalam menentukan kebijakan, dengan mempertimbangkan data ekonomi, prospek, dan risiko ke depan.

