JAKARTA: Liang Wenfeng, pendiri perusahaan rintisan kecerdasan buatan (AI) asal China, DeepSeek, kini menjadi pusat perhatian dalam industri teknologi AI. Dalam waktu singkat, sosok yang sebelumnya tertutup ini menjadi simbol harapan China dalam menghadapi pembatasan ekspor teknologi oleh Amerika Serikat (AS).
Pada 20 Januari 2025, Liang diundang ke sebuah simposium tertutup yang dipimpin oleh Perdana Menteri China, Li Qiang. Kehadirannya di acara yang dihadiri oleh akademisi senior, pejabat pemerintah, dan pemimpin perusahaan negara ini menandakan pengakuan pemerintah terhadap peran DeepSeek dalam persaingan global AI.
Di bawah kepemimpinan Liang, DeepSeek memilih pendekatan berbeda dibandingkan kebanyakan perusahaan teknologi China. Sementara banyak perusahaan berfokus pada pengadaptasian inovasi luar negeri, DeepSeek lebih menitikberatkan riset fundamental dalam pengembangan model AI.
DeepSeek tidak tertarik mengembangkan aplikasi pengguna akhir, tetapi lebih fokus membangun model AI yang dapat digunakan oleh perusahaan lain. Baru-baru ini, perusahaan ini meluncurkan asisten AI gratis yang diklaim lebih efisien dalam penggunaan data dan biaya dibandingkan dengan layanan lain yang tersedia. Peluncuran ini bahkan berdampak pada aksi jual saham teknologi global, menunjukkan besarnya pengaruh DeepSeek dalam industri AI.
Dalam wawancara dengan media China, Waves, Liang menegaskan pentingnya inovasi bagi industri AI China. “Kita sering berbicara tentang kesenjangan satu hingga dua tahun antara AI China dan AS, tetapi perbedaan sebenarnya adalah antara orisinalitas dan imitasi,” ujarnya.
Salah satu strategi utama DeepSeek adalah menerapkan sistem sumber terbuka (open-source) dalam model AI mereka. Pendekatan ini berbeda dari OpenAI yang mengembangkan AI dengan sistem tertutup. Dengan model open-source, pengembang dari seluruh dunia dapat mengakses dan memodifikasi kode dasar AI sesuai dengan kebutuhan mereka.
Budaya Open-Source
Menurut Liang, budaya open-source adalah faktor kunci keunggulan Silicon Valley dibandingkan China. “Open-source bukan sekadar strategi bisnis, tetapi lebih merupakan praktik budaya. Perusahaan yang menerapkan pendekatan ini akan memiliki kekuatan lunak yang lebih besar,” jelasnya.
Pendekatan ini mencerminkan perubahan paradigma dalam pengembangan teknologi di China, yang kini lebih berorientasi pada inovasi dan eksplorasi ilmiah daripada sekadar mengejar keuntungan finansial.
Liang Wenfeng lahir dan dibesarkan di Provinsi Guangdong, daerah yang dikenal sebagai pusat kapitalisme pasar di China sejak era 1980-an dan 1990-an. Di usia 17 tahun, ia diterima di Universitas Zhejiang, salah satu universitas paling bergengsi di China, dan mengambil jurusan Teknik Elektronika dan Komunikasi.
Setelah meraih gelar magister di bidang Teknik Informasi dan Komunikasi pada 2010, ia mendirikan perusahaan dana lindung nilai (hedge fund) kuantitatif pada 2015. Perusahaan tersebut menggunakan algoritma matematis dalam perdagangan saham, menggantikan analisis manusia.
Portofolio dana yang dikelolanya berkembang pesat hingga mencapai lebih dari 100 miliar yuan (sekitar 13,79 miliar dolar AS) pada akhir 2021. Namun, pada April 2023, perusahaan tersebut mengumumkan perubahan fokus dari investasi ke eksplorasi kecerdasan buatan tingkat lanjut (Artificial General Intelligence/AGI). Sebulan kemudian, DeepSeek resmi didirikan.
AGI adalah sistem AI yang dapat melampaui kemampuan manusia dalam sebagian besar tugas bernilai ekonomi. Liang percaya bahwa tantangan dalam mencapai AGI akan menarik talenta terbaik di industri AI untuk bergabung dengan DeepSeek. “Bakat terbaik tentu saja tertarik pada tantangan terbesar di dunia. Tujuan kami tetap meraih AGI,” katanya dalam wawancara dengan Waves.
Masa Depan DeepSeek
Dengan fokus pada pengembangan teknologi fundamental dan komitmen terhadap open-source, DeepSeek berupaya menjadi pemimpin dalam industri AI global. Perusahaan ini tidak hanya mengikuti tren, tetapi juga menciptakan standar baru dalam pengembangan AI.
Dalam beberapa bulan ke depan, langkah DeepSeek akan terus diawasi oleh para pelaku industri dan pemerintah, baik di China maupun di luar negeri. Jika berhasil, DeepSeek berpotensi menjadi perusahaan AI pertama dari China yang mampu menyaingi dominasi OpenAI dan raksasa teknologi AS lainnya.

