JAKARTA: Megawati Soekarnoputri, Ketua Umum PDI Perjuangan, menjadi salah satu pemimpin partai politik yang konsisten mengambil sikap di luar pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Hingga saat ini, tidak ada tanda-tanda bahwa PDIP akan bergabung dengan koalisi pemerintahan. Sebaliknya, partai yang meraih suara dan kursi DPR RI terbanyak di Pemilu 2024 ini semakin memperlihatkan sikap oposisi yang kuat.
Terakhir, Megawati bahkan menyinggung adanya upaya pihak tertentu yang ingin mengganggu jalannya Kongres VI PDIP yang dijadwalkan berlangsung pada 2025.
Hal ini diungkapkannya saat berbicara dalam peluncuran dan diskusi buku Pilpres 2024: Antara Hukum, Etika, dan Pertimbangan Psikologis di Jakarta pada 12 Desember 2024.
“Saya dengar katanya nanti di kongres mau ‘diawut-awut’ (diobok-obok atau diacak-acak). Saya sengaja nih ngomong biar kedengaran, silakan coba ‘awut-awut’ partai saya,” ujar Megawati dengan tegas.
Namun, Megawati tidak menjelaskan lebih lanjut siapa pihak yang dimaksud atau apa motif mereka. Pernyataan ini muncul di tengah persiapan internal partai menuju Kongres VI, yang merupakan agenda penting bagi PDIP.
Agenda Besar Kongres VI
Kongres VI menjadi puncak konsolidasi PDIP setelah Rakernas V yang digelar pada Mei 2024 lalu. Dalam Rakernas tersebut, seluruh perwakilan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PDIP se-Indonesia secara aklamasi meminta Megawati untuk kembali memimpin partai untuk periode 2025–2030.
Permintaan ini diumumkan oleh Puan Maharani, Ketua DPP PDIP, dalam penutupan Rakernas di Beach City International Stadium, Ancol, Jakarta. “Rakernas V partai, setelah mendengarkan pandangan umum DPD PDI Perjuangan se-Indonesia, memohon kesediaan Ibu Megawati Soekarnoputri untuk dapat diangkat dan ditetapkan kembali sebagai Ketua Umum PDI Perjuangan periode 2025–2030 pada Kongres VI tahun 2025,” ujar Puan.
Namun demikian, Megawati belum memberikan keputusan terkait permintaan tersebut. Ia mengisyaratkan keinginan untuk pensiun setelah lebih dari dua dekade memimpin PDIP, partai yang ia dirikan pada 1999.
“Sekarang masih keren diminta oleh seluruh anggota partai secara aklamasi. Kalau ada nanti kongres, ibu mesti jadi lagi. Enak saja, memangnya saya enggak boleh pensiun?” katanya sambil bercanda, namun dengan nada yang serius.
Tantangan
Pernyataan Megawati soal adanya upaya “mengawut-awut” PDIP menunjukkan bahwa partai ini menghadapi tantangan serius, baik dari dalam maupun luar. Sebagai partai besar dengan pengaruh politik yang luas, PDIP kerap menjadi target berbagai manuver politik, bahkan saat dulu masih bernama PDI.
Namun Megawati terbukti tangguh, sejauh ini. Betapa tidak? Megawati bahkan pernah ditekan keras oleh rezim Orde Baru Soeharto dalam peristiwa yang dikenal dengan nama Kudatuli 1996.
Tentu dengan pengalaman masa lalu yang pernah bertubi-tubi “dizalimi”, Megawati tak akan menyerah begitu saja seandainya memang benar ada yang mencoba mengacak-acak PDIP…

