JAKARTA: Bali, yang dikenal sebagai ‘kandang banteng’ terus menunjukkan dominasi politiknya sebagai basis kuat Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Meskipun beberapa wilayah lain di Indonesia, seperti Sumatera Utara dan Jawa Tengah, menunjukkan melemahnya dominasi partai berlambang banteng moncong putih, Bali tetap menjadi benteng yang kokoh bagi PDIP.
Hasil Pilkada 2024 di Pulau Dewata menguatkan stempel politik tersebut. Betapa tidak? Dari 10 kontestasi pemilihan di tingkat provinsi dan kabupaten/kota, PDIP memenangkan sembilan di antaranya. Kemenangan ini termasuk di Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Bali, di mana pasangan I Wayan Koster-I Nyoman Giri Prasta meraih 61,49% suara. Selain itu, PDIP juga memenangkan Pilkada Denpasar, Gianyar, Klungkung, Bangli, Badung, Buleleng, Jembrana, dan Tabanan. Satu-satunya kekalahan terjadi di Kabupaten Karangasem.
Kemenangan ini menunjukkan tingginya kepercayaan masyarakat Bali terhadap PDIP, yang telah menjadi kekuatan dominan sejak lama. Sepanjang sejarah pemilu, Bali selalu menjadi penyumbang suara signifikan bagi PDIP, bahkan di era Orde Baru ketika Golkar mendominasi melalui pengaruh birokrasi dan militer. Bali tetap memelihara semangat dan ideologi PDIP, yang saat itu bernama Partai Demokrasi Indonesia (PDI), dan ini meledak dalam kemenangan besar pada Pemilu 1999.
Akar dominasi PDI-P di Bali dapat dilacak ke Pemilu 1955. Saat itu, Partai Nasional Indonesia (PNI), yang didirikan oleh Soekarno, menang mutlak di Bali. Kemenangan ini sebagian besar disebabkan oleh kedekatan emosional masyarakat Bali dengan Soekarno, yang memiliki garis keturunan Bali dari ibunya. Selain itu, ideologi nasionalis PNI dianggap relevan dengan masyarakat Bali yang mayoritas beragama Hindu.
Namun, dominasi PNI sempat memudar selama Orde Baru, ketika Golkar menggunakan kekuatan birokrasi dan militer untuk meraih dominasi politik. Meski demikian, masyarakat Bali tetap memelihara semangat PNI melalui perlawanan terhadap kebijakan pemerintah yang dianggap merusak nilai-nilai tradisional dan sakral. Ketika Orde Baru runtuh pada 1998, PDIP yang merupakan penerus PNI bangkit kembali, dan Golkar kehilangan cengkeramannya.
Pemilu 1999 menjadi tonggak kebangkitan PDIP di Bali, di mana partai ini menang besar. Hal ini tidak hanya disebabkan oleh warisan historis PNI, tetapi juga oleh sosok Megawati Soekarnoputri, putri Bung Karno, yang dianggap mewakili aspirasi masyarakat Bali. Sejak itu, PDIP terus mendominasi politik lokal dan nasional di Bali, termasuk memenangkan suara terbanyak dalam pemilihan presiden yang melibatkan kandidat dari partai ini.
Kunci Dominasi PDIP di Bali
Keberhasilan PDIP di Bali tidak hanya didasarkan pada faktor sejarah, tetapi juga pada keberhasilannya dalam kaderisasi. Banyak kader PDIP yang menduduki posisi penting di lembaga adat tradisional seperti banjar, subak, dan sekaa, yang sangat berpengaruh dalam kehidupan sosial dan budaya masyarakat Bali. Hubungan erat ini memungkinkan PDIP mengonversi pengaruhnya menjadi suara dalam pemilu.
Jika keberhasilan kaderisasi ini terus dijaga dan narasi historis PDIP terus direproduksi, tampaknya dominasi partai ini di Bali akan sulit tergoyahkan. Dalam konteks politik nasional, Bali akan tetap menjadi salah satu daerah terkuat yang mendukung PDIP.

