JAKARTA: Calon kepala daerah dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mengalami kekalahan di basis suara tradisional mereka, seperti DKI Jakarta, Depok, dan Jawa Barat pada Pilkada 2024.
Di Jakarta, pasangan Ridwan Kamil-Suswono kalah dari Pramono Anung-Rano Karno, berdasarkan hasil hitung cepat. Suswono, kader senior PKS yang pernah menjadi Menteri Pertanian, dinilai kurang dikenal.
Di Kota Depok, Jawa Barat, pasangan Imam Budi Hartono-Ririn Farabi Arafiq yang diusung PKS dan Golkar tumbang melawan Supian Suri-Chandra Rahmansyah. Sementara di Jawa Barat, Presiden PKS Ahmad Syaikhu dan Ilham Akbar Habibie kalah dari Dedi Mulyadi, kader Partai Gerindra.
Melemahnya mesin partai PKS disebut-sebut sebagai penyebab utama Pun konflik internal yang melahirkan Partai Gelora turut memengaruhi performa partai dakwah tersebut.
Dalam hal Depok, minimnya pencapaian signifikan selama dua decade kader PKS memimpin Depok menjadi faktor lain yang dinilai mempengaruhi kekalahan paslon mereka kali ini.
Di sisi lain, pemilih yang semakin cerdas tidak lagi hanya loyal pada partai. Ini terlihat dari fenomena split voters, di mana pendukung partai tidak serta-merta memilih calon kepala daerah yang diusung partai tersebut.
Faktor Anies Baswedan
Tentu saja kekecewaan akibat batalnya pengusungan Anies Baswedan sebagai kandidat gubernur di Jakarta tak bisa dipungkiri turut menjadi penyebab melemahnya dukungan PKS.
Fakta bahwa Anies justru mendukung Pramono Anung-Rano Karno yang diusung PDI Perjuangan, harus diakui telah berhasil menarik basis pemilih loyalnya, yang sesungguhnya banyak di antaranya bersinggungan dengan basis massa PKS.
Faktor Anies ini tidak bisa diremehkan mengingat ketokohannya di kalangan basis massa PKS itu nyata dan signifikan. Bahkan ketokohan Anies di kalangan pendukung PKS situ melampaui sekat regional Jakarta.

