JAKARTA (Sketsa.co) — Ketua Dewan Pembina Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Jeffrie Geovanie sekonyong-konyong mengusulkan agar Presiden Jokowi didapuk menjadi ketua ‘barisan nasional’ yang memimpin seluruh partai koalisi pengusung capres-cawapres Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka pada Pilpres 2024.
Melalui wawancara di kanal YouTube Podcast Zulfan Lindan Unpacking yang diunggah 1 Maret lalu, Jeffrie yang jarang nongol di depan publik itu, menjelaskan bahwa konsep barisan nasional itu sebagai koalisi permanen seperti di Malaysia. Pada intinya, konsep ini berisikan koalisi partai mayoritas di parlemen dan bersifat permanen.
Jeffrie menyebutkan konsep barisan nasional ini tak sebatas berkoalisi di tingkat pusat, melainkan hingga ke level kabupaten/kota untuk menghadapi kontestasi pilkada. Konsep itu, kata dia, akan melahirkan konvensi internal dalam menentukan sosok yang akan diusung di pilkada.
Anggota Majelis Tinggi Partai Demokrat Syarief Hasan tak sepakat dengan usul PSI mengangkat Jokowi sebagai ketua ‘barisan nasional’. Menurutnya, partai pasti enggan memberikan kedaulatan serta kebijakan partainya ke orang lain, termasuk Jokowi.
“Tidak mungkin partai mau menyerahkan kedaulatan dan kebijakan partainya kepada seseorang atau Jokowi seperti yang diusulkan PSI tersebut,” kata Syarief seperti dikutip CNNIndonesia.com, Kamis (14/3).
Baca juga: Seputar Peluang Jokowi Menjadi Ketum Golkar
Seperti dikutip Wikipedia.org, Barisan Nasional atau BN adalah koalisi yang dibentuk beberapa partai di Malaysia yang mewakili masing-masing etnis Melayu, China (Tionghoa), India, Bumiputera, dan lainnya di Negeri Jiran tersebut. Pada masanya, BN menjadi koalisi propemerintah setelah secara berturut-turut memenangkan pemilu. Namun popularitas BN mulai menurun sejak pemilu 2008 manakala koalisi oposisi, Pakatan Rakyat, menjadi pemenang pemilihan umum di beberapa negara bagian. Hingga akhirnya, BN mengalami penurunan kursi parlemen dan menyaksikan kemenangan Pakatan Harapan pada 2018.
Seperti diketahui, Malaysia menerapkan sistem parlementer dengan puncak eksekutif dipimpin perdana menteri, sementara Indonesia memakai sistem presidensial: kepala negara sekaligus pemimpin eksekutif.
Berubah Sikap?
Apa yang bisa ditafsirkan dari pernyataan Jeffrie Geovanie tentang usulannya agar Jokowi jadi ketua ‘barisan nasional’ yang mewadahi partai-partai pengusung Prabowo-Gibran?
Apakah pernyataan Jeffrie bisa ditafsirkan bahwa PSI—yang kini dipimpin Kaesang Pangarep (putra bungsu Jokowi)—berharap agar mantan Walikota Surakarta itu masih bisa terlibat atau ‘cawe-cawe’ dalam urusan perpolitikan nasional setelah dia lengser dari jabatan presiden pada 20 Oktober 2024?
Satu hal, Presiden Jokowi pernah mengatakan ingin menghabiskan masa pensiunnya di Solo setelah tidak lagi menjabat sebagai presiden. “Saya mau pensiun pulang ke Solo,” kata Jokowi seusai upacara peringatan HUT TNI di Lapangan Monumen Nasional, Jakarta, Kamis (5/10/2023).
Adakah Jokowi berubah sikap sejak sang putra sulung, Gibran Rakabuming Raka, menjadi cawapres pendamping Prabowo dalam Pilpres 2024, dan kemungkinan akan ditetapkan sebagai pasangan terpilih oleh KPU?

