JAKARTA (Sketsa.co) — Politisi PDI Perjuangan Basuki Tjahaja Purnama atau akrab disapa Ahok belum lama ini melontarkan pernyataan cukup kontroversial.
Mantan Gubernur DKI Jakarta yang kini mendukung pasangan calon presiden dan wakil presiden Ganjar Pranowo-Mahfud MD itu mengkritik program bantuan sosial (bansos) di pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dengan menyebut bahwa bansos hanya ada di zaman kerajaan.
Terbaru, Ahok menyebutkan bahwa Presiden Jokowi dan Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka tidak bisa bekerja dengan baik. Pernyataan ini menuai pro-kontra di media sosial.
“Di mana bukti bahwa Gibran bisa bekerja selama menjabat sebagai wali kota?” kata Ahok saat tanya jawab dalam suatu acara seperti terekam dalam potongan video singkat yang viral di media sosial.
Ahok juga mempertanyakan kinerja Jokowi dengan berkata, “Apakah Ibu kira Pak Jokowi juga bisa bekerja? Kita bisa berdebat tentang hal itu. Saya lebih mengetahuinya. Namun, saya tidak nyaman membahasnya di depan umum,” ujarnya.
Sekretaris Tim Kampanye Nasional (TKN) Prabowo-Gibran, Nusron Wahid, menilai Ahok selalu menciptakan kegaduhan si masyarakat.
“Nggak perlu ditanggapi, omongan Ahok selalu menciptakan kegaduhan. Itu sudah jadi kebiasaan dia sejak dulu,” ujar Nusron dalam keterangan pers di Jakarta, Rabu (7/2).
Baca juga: Caleg Petahana PDIP Darmadi Durianto Diprediksi Lolos ke Senayan Lagi
Nusron menilai bahwa pernyataan Ahok hanya bertujuan untuk menciptakan kegaduhan di masyarakat, dan ini sudah menjadi kebiasaannya.
Ia juga mengingatkan bahwa Ahok sebelumnya telah tersandung dalam masalah hukum karena perkataannya. “Namun, sayangnya sekarang dia menjadi beban masyarakat karena itu. Ahok sepertinya tidak belajar dari kesalahannya dan tampaknya senang menciptakan kekacauan di masyarakat,” ujar Nusron.
Meskipun demikian, Nusron menegaskan bahwa pihak Prabowo-Gibran tidak akan terpancing oleh pernyataan Ahok. TKN Prabowo-Gibran tetap memilih sikap politik yang inklusif dan tidak menjatuhkan pihak lain.”Kami tidak ingin menciptakan kekacauan. Biarkanlah Ahok berbicara apa pun yang dia inginkan,” tambahnya.
Dampak Elektoral
Pertanyaannya, adakah kemunculan Ahok dalam rangkaian hiruk-pikuk Pemilu 2024 ini memberikan dampak elektoral positif atau justru sebaliknya malah menggerus elektabilitas paslon nomor urut 03 Ganjar-Mahfud?
Ahok yang baru saja mundur dari jabatan komisaris utama PT Pertamina (Persero), dikenal sebagai pribadi yang ceplas-ceplos tapi memiliki integritas kuat dalam soal pemberantasan korupsi atau sikap anti-KKN. Bagi sebagian kalangan menengah kritis, Ahok dipandang sebagai sosok ideal pemimpin atau politisi yang mampu mengedepankan integritas dan profesionalitas.
Meski tak cukup besar, Ahok diyakini memiliki segmen pendukung yang cukup memadai dari kalangan Ahoker, dan bisa menambah insentif elektoral buat Ganjar-Mahfud. Segmen pemilih galau (swing voter) atau undecided voter yang masih biambang untuk menentukan pilihan paslon capres-cawapres menjadi ceruk yang bisa dipengaruhi oleh kehadiran Ahok yang secara konsisten mendukung keputusan PDIP mengusung paslon Ganjar-Mahfud.
Kelompok pemilih galau yang sangat potensial terpengaruh dengan manuver Ahok datang dari segmen minoritas Tionghoa dan non-muslim. Jumlahnya memang tak besar dari sisi prosentase terhadap total jumlah pemilih. Namun, siapapun tahu, suara kelompok minoritas ini bisa sangat mempengaruhi hasil akhir kontestasi pilpres…

