JAKARTA (Sketsa.co) — Partai Demokrat sedang menghadapi tantangan besar terkait posisi politik mereka dalam Pemilu 2024. Hal itu tercermin dari pidato Ketua Umum Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) yang menekankan tekad untuk membawa perubahan.
Menurut Adi Prayitno, Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia, dalam wawancara dengan detiknews.com pada Senin (15/1), pidato AHY terlihat menggambarkan kegalauan, terutama terkait posisi politik Demokrat.
Adi menyebut bahwa Demokrat tampak berada dalam dilema, di satu sisi mereka mendukung perubahan dan seringkali mengkritik pemerintahan Jokowi, namun di sisi lain, mereka harus berkomitmen pada realitas politik dengan mendukung Prabowo-Gibran, yang pada dasarnya adalah replika Jokowi.
Adi juga menyoroti kompleksitas posisi politik Demokrat karena basis konstituennya yang vokal dalam menyuarakan perubahan dan kritik terhadap pemerintahan Jokowi. Dia menyatakan bahwa meskipun konstituen Demokrat cenderung kritis terhadap Jokowi, partai ini harus berkompromi dengan mendukung pasangan Prabowo-Gibran yang memiliki keterkaitan dengan Jokowi.
Sebelumnya, dalam pidatonya Jumat (12/1), AHY menjelaskan bahwa pertanyaan masyarakat tentang apakah Demokrat masih memperjuangkan perubahan dan perbaikan setelah mendukung Prabowo masih relevan.
Putra sulung Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu menekankan bahwa partai ini masih memiliki agenda perubahan dan perbaikan, meskipun saat ini berkoalisi dengan koalisi partai pemerintahan Jokowi mendukung paslon Prabowo-Gibran.
AHY menyatakan bahwa dia telah berkomunikasi dengan Prabowo tentang agenda ini, dan Prabowo setuju untuk mengakomodasi aspirasi Partai Demokrat.
Ujian Besar AHY
Harus diakui, rangkaian Pemilu 2024 menjadi ujian besar bagi kepemimpinan AHY di Partai Demokrat. Sejak hengkang dari koalisi pendukung pencapresan Anies Baswedan dan akhirnya memilih berlabuh ke koalisi partai pro-Prabowo-Gibran, Demokrat tampak ‘kebingungan’ memposisikan diri.
Terlihat setengah hati karena nyaris sulit menemukan baliho atau poster dukungan Demokrat dengan menampilkan foto atau gambar duet Prabowo-Gibran, partai ini terlihat kurang antusias untuk mengampanyekan paslon nomor urut 02 tersebut.
Baca juga: Maruarar Susul Budiman Hengkang dari PDIP, Akankah Berdampak Serius?
Di sisi lain, Demokrat juga menghadapi tantangan untuk mempertahankan eksistensinya di DPR RI dengan berjuang untuk tetap bisa lolos ambang batas parlemen 4%, sesuatu yang dianggap bukan perkara mudah di tengah kebimbangan dalam menegaskan posisi politiknya, antara pro perubahan atau keberlanjutan.
Bukan apa-apa. Salah-salah, Demokrat bisa terpental dari Senayan…

